Sabtu, 24 Februari 2018

Polisi Gunakan Gas Air Mata

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 28 Agustus 2003 14:56 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Para demonstran di depan Kedutaan Amerika Serikat merobohkan barikade kawat berduri dan aparat keamanan menembakkan gas air mata serta meriam air. Mereka saat ini bergerak menuju Istana Presiden.

    Para demonstran tersebut, sebagian dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) , berusaha menembus barikade polisi, yang menjaga kedutaan Amerika Serikat, dan merobohkan kawat berduri.

    Usaha ini disambut dengan meriam air dan dua tembakan gas air mata. Polisi juga menembakkan peluru hampa, setidaknya 20 kali. Para pengunjuk rasa, Kammi, akhirnya membubarkan diri dan berjalan menuju ke Istana Negara.

    Saat ini, demonstrasi demonstrasi menuju ke Jalan Medan Merdeka Utara menuju Istana Presiden melakukan aksi. Terlihat para polisi semakin represif dan merapatkan barisan untuk membubarkan demonstran. Sambil meneriakkan yel-yel dan nyanyian demonstran KAMMI meninggalkan halaman depan Kedubes AS.

    Para demonstran KAMMI, jumlahnya setidaknya 2.000 orang, datang pada siang hari. Di tempat yang sama, sebelumnya, sudah berkumpul ratusan massa anggota Front Pembela Islam (FPI).

    FPI juga sempat melakukan dorong-dorongan dengan pihak kepolisian. FPI mundur tapi masih berada di sekitar depan gedung Kedutaan AS. Mereka menyatakan menunggu rekan-rekan mereka yang berangkat dari Lampung dan Surabaya.

    Dalam bentrokan tersebut, dua orang anggota Kammi terluka memar di bagian punggung. Rekan-rekan mereka memperkirakan mereka terkena peluru karet, meskipun pihak keamanan menyatakan hanya menggunakan peluru kosong.

    Sedang menurut Dan Sat Brimob Polda Metro, Kombes Pol Beno Kilapang, mengatakan seorang anggotanya keamanan, Bharada Syahrial, terkena lemparan batu bagian kepala sehingga harus dibawa RS Polri Kramat Jati.

    Beno menyayangkan para demonstran yang anarkis. Ia mengatakan akan melakukan tindakan lebih ketat lagi. Sebenarnya kita sudah memberikan batas kepada mereka demonstran untuk menyalurkan aspirasinya, katanya. (fathur-tempo news room)


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Ucapan Pedas Duterte, Memaki Barack Obama dan Dukung Perkosaan

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte sering melontarkan ucapan kontroversial yang pedas, seperti memaki Barack Obama dan mengancam pemberontak wanita.