Spike Lee, Georgia yang Jauh, dan Perjuangan Kaum Minoritas di Mola Living Live

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • INFO NASIONAL -- Atlanta, Amerika Serikat, banyak dihuni warga keturunan imigran Afrika. Penulis melihat warisan perjuangan kaum kulit hitam ini sewaktu meliput Olimpiade Musim Panas 1996 di ibukota Negara Bagian Georgia tersebut. Di Atlanta pula, Spike Lee dilahirkan pada 20 Maret 1957. Ibunya, Jacquilene Carrol, wanita guru seni dan sastra kulit hitam, dan ayahnya musisi-komposer jazz, William James Edward Lee II. Lee bersama keluarga pindah ke Brookly, New York, ketika masih kecil.

    Shelton Jackson Lee atau yang populer dengan nama Spike Lee dikenal sebagai sutradara, produser, penulis naskah, aktor, dan profesor. Ia menggeluti dunia perfilman sejak 1983. Ia melahirkan banyak karya sebagai sutradara, seperti film Oldboy, Malcolm X, Inside Man, BlacKkKlansman, hingga yang terbaru Da 5 Bloods

    Salah satu tokoh besar dunia perfilman dari Amerika Serikat ini hadir langsung di Mola TV melalui sambungan virtual, yaitu video conference, baru-baru ini, Jumat 4 Desember 2020 pukul 19.30, di program eksklusif Mola Living Live. 

    Adapun Mola Living Live adalah sebuah acara bulanan yang menghadirkan tokoh tokoh inspirasional dunia untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman secara langsung dengan para pelanggan Mola TV.

     

    Ketika berbagi pengalaman kepada pelanggan Mola TV,  dipandu aktor film nasional Reza Hahadian dan Dino Pati Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Spike Lee memberi jawaban yang menarik sekaligus bernada sarkatis atas pertanyaan Dino, yaitu bagaimana bila Lee sedang berada di New York pada pukul enam pagi, harus segera berangkat ke bandar udara, naik taksi, dan ternyata di dalamnya ada Presiden Donald Trump.

    “Yang pertama, saya akan segera keluar dari taksi,” kata Spike Lee. Kita tahu Donald Trump, yang akan menyerahkan jabatannya sebagai presiden Amerika Serikat kepada Joe Biden pada Januari 2021, memiliki sejumlah kebijakan yang kontroversial untuk warga imigran dan kulit berwarna.       

    Adapun karya-karya Spike Lee dibentuk dari latar belakang keluarga dan masalah minoritas yang mereka hadapi sejak bermukim di Atlanta.

    Dalam cuplikan sajak Blues Bonie, penyair WS Rendra, ketika mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art pada 1964-1967, kita mendapatkan gambaran ringkas tentang suasana Georgia sebagai berikut:

    “Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya/Anak-anak Negro bermain di selokan/tak krasan sekolah. Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual/banyak hutangnya. Dan di hari Minggu/mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro.”

    Seseorang dibentuk dari situasi sosial tempat ia berada. Dan, Spike Lee banyak menyuarakan persoalan yang diakrabinya itu. Film Malcom X, misalnya, bersumber dari kisah perjuangan aktivitas hak asasi kemanusiaan dan mantan salah satu menteri di Amerika Serikat yang meninggal ditembak pada usia 39 tahun pada 21 Februari 1965.

    Bersama Martin Luther King, Jr, menteri kulit hitam lainnnya, Malcom X adalah sosok inspirator perjuangan persamaan kedudukan kaum negro di Amerika Serikat. Malcom X sekaligus merupakan alterego dari Martin Luther King, Jr. Sebagaimana Malcom X, Martin juga akhirnya harus meninggal dibunuh pada 4 April 1968.   

    Bagaimana Spike Lee berkarya berdasarkan situasi sosial di sekitarnya akan memberikan inspirasi kepada para pelanggan Mola TV tak hanya di kalangan perfilman, tapi juga di bidang seni lainnya dan bahkan di bidang lainnya, untuk menghasilkan karya yang berkarakter, punya ciri khas, dan memiliki keunggulan dalam soal difrensiasi.

    Di acara Mola Living Live yang ditayangkan secara eksklusif pada Jumat 4 Desember 2020 pukul 19.30, itu juga Spike Lee membocorkan rencana eksklusifnya tentang produksi film terbaru kepada Reza Rahadian yang bertanya soal apakah Lee akan terus mendorong kemampuan berkarya sampai batas yang paling maksimal. “Ini akan menjadi berita eksklusif untuk kalian dan audiens di Indonesia. Film musikal tentang kemunculan viagra,” kata Spike Lee.

    Sebagaimana persoalan warga kulit hitam di Amerika Serikat yang belum sepenuhnya terselesaikan, viagra juga sebuah fakta sosial menyangkut kebutuhan naluri seks yang menjadi sebuah fenomena ironis.     

    Menangkap gejala atau fenomena setiap zaman seperti yang dikerjakan Spike Lee hanya bisa dihasilkan jika seseorang memiliki sebuah intensitas etos bekerja keras. “Work ethic,” kata Spike Lee menjawab pertanyaan pelanggan Mola TV, melalui Reza dan Dino, tenyang apa yang akan dikatakan kepada para sineas muda di Indonesia.   

    Dan, para tokoh dunia yang dihadirkan di Mola Living Live selama ini memiliki kesamaan dengan kisah inspiratif yang dihadirkan Spike Lee. Kerja keras, ketegaran untuk menghadapi situasi sulit yang dihadapi kemudian bangkit, dan peka terhadap peristiwa-peristiwa sosial di sekitarnya.

    Sebelum Spike Lee, Darren Aronofsky, Sharone Stone, Luc Besson, dan Mike Tyson sudah dihadirkan di Mola Living Live ini. Semua bincang-bincang eksklusif itu bisa disaksikan tayangan ulangnya di Mola TV.

    Pada usia 54 tahun, legenda tinju dunia Mike Tyson telah bangkit dari kejayaan kemudian kenistaan serta sejumlah cibiran untuk kembali menjadi manusia penuh martabat seperti sekarang. Adapun kisah inspiratif perjuangannya itu bisa didengar langsung dari mulut sang legenda tinju dunia ini di Mola Living Live di Mola TV pada 2 Oktober 2020 dan tayangan ulangnya dapat disaksikan sampai sekarang.

    Bincang-bincang eksklusif dengan Mike Tyson dipandu Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

     “Saya berharap isi wawancara saya dapat meng-encourage semua orang terutama pada masa pandemi ini, di mana semua orang merasa depresi dan stres, mungkin sedikit pesimistis,” kata Susi.

    Pada 24 November 2020, ada bincang-bincang interaktif dengan sutradara film blockbuster Holywood, Darren Aronofsky. Ia bukan hanya membagi kisah kesuksesan dalam hidup dan kariernya, tapi juga membagi kisah kegagalan hidup dan cara menyikapinya.

    Metamorfois kehidupan dan melawan stigma negatif seperti yang dialami Mike Tyson juga kita bisa dapatkan pada perbincangan dengan Sharon Stone, aktris peraih Golden Globe Awards, pada Sabtu 7 November 2020.

    Semua manusia bisa bangkit dan meraih sukses kalau ia banyak membuka diri alias berwawasan global. Hal itu yang bisa kita dapatkan saat menyaksikan perbincangan dengan  Luc Besson, sutradara asal Prancis yang menciptakan film-film box office seperti Taken, Transporter dan The Professional, yang ditayangkan pertama kali pada 23 Oktober 2020.

    Acara diskusi dan tanya-jawab Mola Living Live ini bisa disaksikan dengan membeli paket langganan Mola TV manapun, mulai dari Rp 12.500 per bulan dan mengaksesnya melalui apikasi Mola TV yang tersedia di appstore dan playstore atau melalui situs www.mola.tv


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.