Tanggapi Isu Bakal Jadi Mensos, Risma: Saya Ikut Ibu Mega

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali kota Surabaya, Tri Rismaharani berangkat ke kantor pukul 06.30 dan baru pulang pada pukul 01.00 atau pukul 02.00. Ia tidak pernah mengeluh dalam bekerja karena masih ada warganya yang lebih sengsara daripada dirinya. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Wali kota Surabaya, Tri Rismaharani berangkat ke kantor pukul 06.30 dan baru pulang pada pukul 01.00 atau pukul 02.00. Ia tidak pernah mengeluh dalam bekerja karena masih ada warganya yang lebih sengsara daripada dirinya. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan belum ada tawaran dari Presiden Joko Widodo terkait posisi Menteri Sosial. Sebelumnya, beredar isu Presiden menawari Risma posisi Mensos menggantikan Juliari Batubara yang terseret kasus korupsi bantuan sosial penanganan Covid-19.

    Risma menuturkan, sejak dulu ia tak mengharapkan jabatan, termasuk menjadi menteri. Sekarang pun, kata Risma, ia tak berpikir soal menteri karena proses pilkada belum selesai. Ketika ditanya jika tawaran menjadi Menteri Sosial itu datang setelah pilkada selesai, Risma tak menjawab tegas.

     “Ya nanti (salat) istikharah dulu, bisa apa ndak (jadi menteri). Nanti kadung iya ternyata enggak bisa. Jadi orang itu ndak boleh takabur, yang bisa ngukur aku ya aku sendiri, bukan orang lain,” ucap Risma, Senin, 14 Desember 2020.

    Saat didesak apakah bersedia jika Presiden Jokowi menghendaki Risma masuk ke Kabinet Indonesia Maju, Risma berujar akan melihat perkembangan. “Ya nanti kita lihatlah. Saya ngikut Ibu Mega (Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan) saja,” katanya.

    Setelah Juliari mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Mensos, desas-desus menyebutkan bahwa Risma yang bakal diplot menjadi penggantinya. Apalagi Risma telah menuntaskan jabatannya sebagai Wali Kota Surabaya selama sepuluh tahun.  Meski demikian, saat ditanya kesiapannya jika mendapat penugasan partai, Risma lagi-lagi mengindar. “Siap apa? Jangan digoreng-goreng terus,” katanya sambil tertawa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.