Menang Pilkada Surabaya, PDIP Enggan Merangkul Kelompok Banteng Ketaton

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 01 Eri Cahyadi (kiri) didampingi isterinya Rini Indriyani menunjukkan surat suara saat mencoblos di TPS 25, Ketintang Selatan, Surabaya, Rabu, 9 Desember 2020. Berdasarkan hitung cepat Charta Politikapasangan Eri Cahyadi Armuji unggul dengan perolehan 56,5 persen, sementara Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno memperoleh 43,5 persen. ANTARA/Moch Asim

    Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 01 Eri Cahyadi (kiri) didampingi isterinya Rini Indriyani menunjukkan surat suara saat mencoblos di TPS 25, Ketintang Selatan, Surabaya, Rabu, 9 Desember 2020. Berdasarkan hitung cepat Charta Politikapasangan Eri Cahyadi Armuji unggul dengan perolehan 56,5 persen, sementara Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno memperoleh 43,5 persen. ANTARA/Moch Asim

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris PDI Perjuangan Kota Surabaya Baktiono mengatakan sulit merangkul kembali kelompok Banteng Ketaton karena mereka telah dipecat oleh dewan pimpinan pusat. Banteng Ketaton atau Banteng Terluka ialah sekelompok kader PDIP yang menyeberang mendukung pasangan Machfud Arifin-Mujiaman pada Pilkada Surabaya 9 Desember 2020 lalu.

    Kelompok ini dimotori oleh putra sulung mantan Sekjen PDIP Sutjipto, Jagad Hariseno, dan kader gaek Mat Mochtar. Mereka kecewa terhadap rekomendasi partai yang jatuh pada Eri Cahyadi-Armudji, bukan pada Whisnu Sakti Buana. Whisnu ialah mantan Ketua PDIP Surabaya dua periode sekaligus wakil wali kota saat ini.

    “Perlu diketahui DPP PDIP telah memutuskan bahwa pada Pilkada Surabaya merekomendasikan Eri Cahyadi -Armudji. Terhadap kader yang tidak tegak lurus mengawal rekomendasi partai, apalagi sampai mendukung kompetitor, sanksinya adalah pemecatan,” ujar Baktiono ketika dihubungi, Jumat, 11 Desember 2020.

    Menurut Baktiono, Jagad Hariseno dan Mat Mochtar otomatis dipecat partai. Sehingga, kata dia, PDIP tidak lagi bertanggung jawab terhadap aktivitas keduanya. Kepada kader lain yang bergabung pada Banteng Ketaton, mereka juga dikenai sanksi. “AD/ART partai mengatur soal disiplin anggota, itu tegas,” ujar Baktiono.

    Hal yang memberatkan mereka, kata Baktiono, adalah pembuatan video berisi yel-yel lagu “Menanam Jagung” dengan mengubah syairnya menjadi “hancurkan Risma (Wali Kota Tri Rismaharini)”. Video itu telah beredar kemana-mana dan diketahui oleh masyarakat luas. “Buktinya sudah jelas,” kata dia.

    Adapun Mat Mochtar masih mempertanyakan surat pemecatan terhadap dirinya. Selama ini, kata dia, pemecatan itu baru dia dengar dari pernyataan Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat melalui media. Meski demikian, Mat Mochtar siap menanggung risiko terhadap manuver politik yang dia lakukan. “Hati dan jiwa saya tetap PDIP walaupun dipecat,” katanya.

    Kepala Badan Saksi Pemilu Nasional PDIP Cabang Surabaya, Eusebius Purwadi, mengatakan Eri Cahyadi-Armuji hampir menyapu kemenangan di 31 kecamatan se-Surabaya. Hanya tiga kecamatan saja yang gagal dikuasai, yakni Kecamatan Asemrowo, Pabean Cantian dan Semampir.

    Dari jumlah total jumlah daftar pemilih tetap 2.089.027, berdasarkan real count PDIP, Eri-Armuji meraup 587.203 suara (57,02 persen), sedangkan Machfud Arifin-Mujiaman yang diusung koalisi delapan partai di DPRD Surabaya memperoleh 442.606 suara (42,98 persen).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.