Kasus Covid-19 Cetak Rekor 8.369 Kasus, Satgas: Angka yang Tidak Bisa Ditolerir

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pengolahan darah di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, Selasa, 17 November 2020. PMI Kota Bandung menyatakan, saat ini stok darah di tempat tersebut menipis dengan total tujuh kantong darah jenis packed red cell (PRC) dan empat kantong darah jenis thrombocytes (TC) akibat meningkatnya permintaan dan menurunnya pendonor darah saat pandemi COVID-19. ANTARA/Raisan Al Farisi

    Petugas melakukan pengolahan darah di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, Selasa, 17 November 2020. PMI Kota Bandung menyatakan, saat ini stok darah di tempat tersebut menipis dengan total tujuh kantong darah jenis packed red cell (PRC) dan empat kantong darah jenis thrombocytes (TC) akibat meningkatnya permintaan dan menurunnya pendonor darah saat pandemi COVID-19. ANTARA/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyebut penambahan kasus harian Covid-19 yang menembus rekor baru hingga 8.369 per hari ini, merupakan angka yang sangat besar dan tidak bisa dibiarkan terus naik.

    "Beberapa hari terakhir ini penambahan kasus harian terus mencetak rekor baru. Sebelumnya belum pernah di atas 5.000, per hari ini lebih 8 ribu. Ini adalah angka yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir," ujar Wiku dalam konferensi pers virtual, Kamis, 3 Desember 2020.

    Menurut Satgas Covid-19, angka yang sangat tinggi ini disebabkan karena sistem yang belum optimal untuk mengakomodasi pencatatan, pelaporan dan validasi data dari provinsi secara real time. Sebagai contoh, Papua melaporkan 1.755 kasus per hari ini, sementara angka tersebut merupakan akumulasi penambahan kasus positif sejak 19 November hingga 3 Desember 2020.

    Faktor kedua, ujar Wiku, akibat masyarakat yang semakin tidak mematuhi protokol kesehatan yakni; mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Terutama, ketika libur panjang.

    "Jika terus seperti ini, fasilitas kesehatan sebanyak apapun tidak akan cukup untuk menampung lonjakan kasus," ujar Wiku.

    Ia menjelaskan, berdasarkan hasil studi, minimal 75 persen masyarakat harus patuh memakai masker untuk menekan laju kasus Covid-19. Sementara data teranyar Satgas Covid-19, persentase kepatuhan masyarakat memakai masker hanya 59,2 persen. Lalu, tren kepatuhan menjaga jarak hanya 42,5 persen.

    "Mohon diperhatikan, kelalaian mematuhi protokol kesehatan ini sangat fatal. Jangan menunggu kasus harian tidak terkendali untuk semakin disiplin. Target menurunkan laju kasus tidak akan sulit jika semua masyarakat sadar kita tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja," ujar Wiku.

    Selain itu, Satgas Covid-19 juga mengimbau kepada pemerintah daerah untuk tegas menindak pelanggar protokol kesehatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI Nyatakan Vaksin Covid-19 Sinovac Berstatus Halal, Ini Alasannya

    Keputusan halal untuk vaksin Covid-19 itu diambil setelah sejumlah pengamatan di fasilitas Sinovac berikut pengawasan proses pembuatan secara rinci.