Rizieq Shihab Minta Pemerintah Bebaskan Tahanan Politik dan Ajak Diskusi

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin FPI Rizieq Shihab dengan ditemani oleh menantunya, Hanif Al Athos saat disambut dengan alunan Hadroh atau musik khas Arab dan lantunan sholawat oleh pengikutnya, saat tiba di Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Jumat, 13 November 2020. TEMPO/M.A MURTADHO

    Pemimpin FPI Rizieq Shihab dengan ditemani oleh menantunya, Hanif Al Athos saat disambut dengan alunan Hadroh atau musik khas Arab dan lantunan sholawat oleh pengikutnya, saat tiba di Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Jumat, 13 November 2020. TEMPO/M.A MURTADHO

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab meminta pemerintah membebaskan semua pihak yang dianggapnya sebagai tahanan politik. Di antaranya, ujar dia, para pengurus Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), seperti Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan Anton Permana.

    "Saran saya kepada pemerintah agar membebaskan semua tahanan politik, ajak mereka diskusi, ajak mereka berdebat sehat. Suruh mereka semua kritisi segala kebijakan pemerintah yang menurut mereka membahayakan bangsa," kata Rizieq dalam acara peluncuran buku berjudul 'Pemikiran Sang Revolusioner' karangan Syahganda Nainggolan, Jumat, 27 November 2020.

    Sebelumnya, polisi menangkap pengurus KAMI, yakni Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat dan Anton Permana berdasarkan surat penangkapan bernomor SP/Kap/165/X/2020/ Direktorat Tindak Pidana Siber tertanggal 13 Oktober 2020. Dalam surat tersebut tertulis Syahganda ditangkap atas dugaan menyebarkan berita bohong atau hoaks melalui akun Twitter pribadinya.

    Dari balik jeruji besi, Syahganda tetap menelurkan buah pikiran kritisnya yang diterbitkan dalam sebuah buku berjudul ''Pemikiran Sang Revolusioner'.

    Rizieq menyebut pemerintah semestinya mengajak diskusi orang-orang seperti Syahganda dan bukan justru membungkam mereka. Ia menyarankan pemerintah menjadikan orang-orang kritis sebagai lawan tanding atau sparing partner.

    "Satu lawan yang cerdas berakal sehat lebih baik dari sejuta kawan yang bodoh dan bermental penjilat. Karena melalui lawan cerdas berakal sehat, rezim penguasa bisa mendeteksi kelemahan diri," ujar Rizieq Shihab.

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pam Swakarsa, dari Reformasi hingga Wacana Calon Kapolri Listyo Sigit Prabowo

    Dalam uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri, Listyo menyampaikan berbagai gagasan akan menghidupkan kembali pam swakarsa.