Jumat, 23 Februari 2018

Polda Aceh Ungkap Kematian Dayan Dawood

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 28 Agustus 2003 14:18 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Kepolisian Nanggroe Aceh Darussalam berhasil mengungkap misteri kematian mantan Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dayan Dawood, yang ditembak pada 7 September tahun lalu. Pelaku pembunuhan teridentifikasi dari Kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Aceh Besar. Beberapa di antaranya saat ini masih ditahan di Polda Aceh dan berstatus tersangka. Dua orang masih berstatus buronan dan selebihnya sudah meninggal dunia. "Pelakunya terbukti dari kelompok Gerakan Aceh Merdeka GAM wilayah Aceh Besar,"ujar Kasatserse Polda Aceh Kombes Polisi Surya Darma kepada wartawan, Sabtu (29/6). Selain menangkap pelaku, kata Surya, pihaknya juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya lima senjata api laras pendek, proyektil senjata api, hasil laporan forensic, lima detonator, 32 amunisi. Menurut Surya, kelompok pembunuh Dayan Dawood itu melibatkan delapan personil yakni AS, Ma, M alias L, Mu, Sb, D, E dan A. Beberapa anggota kelompok pelaku pembunuhan Dayan Dawood, kata Surya, sebenarnya sudah ditangkap sejak tiga bulan yang lalu. Namun karena belum berhasil membekuk tersangka utamanya, hal itu belum bisa diungkapkan kepada publik. "Karena pelaku utamanya sudah tertangkap Jumat (28/6) lalu, maka bisa kita ekspose," tambah Surya. Tersangka utama yang melepaskan tembakan ke Dayan Dawood, yakni Ma, 27 tahun, tertangkap dalam sebuah penggerebekan di Desa Tanjung Selamat, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (28/6) sore. Dalam penggerebekan itu, aparat menewaskan Danil, 27 tahun, dan M alias L, 27 tahun. Sedangkan Ma terkena peluru di kaki kiri dan paha kanan."Saat ini Ma sedang dirawat intensif di salah satu rumah sakit umum di Jakarta. Kita ingin dia tetap hidup karena dialah yang menembak Dayan Dawood," ujar Surya. Salah seorang tersangka yang juga saksi kunci pembunuhan berinisial A menuturkan, sehari sebelum peristiwa penembakan, tiga di antara mereka mengadakan sebuah rapat perencanaan di sebuah rumah di Banda Aceh. Rapat itu dilakukan setelah mendapat instruksi dari mantan juru bicara GAM Ayah Sofyan. A dan Sb bertugas memantau aktivitas Dayan Dawood di depan Biro Rektor Unsyiah. Sedangkan Ma dan M alias L kebagian tugas melakukan penembakan. Keesokan harinya pada 7 September, A dan Sb melakukan tugasnya memantau aktivitas Dayan. Sekitar pukul 14.00 WIB, setelah melihat Dayan keluar dari Biro Rektor, A dan Sb segera menghubungi Ma dan M alias L melalui telepon seluler. "Setelah itu mereka berdua segera mengejar Pak Dayan dengan sepeda motor," ujar A yang sehari-hari bekerja sebagai pemborong. Pembunuhan itu, kata dia, dilakukan karena beberapa alasan. Dayan Dawood dinilai tidak membantu perjuangan GAM, tidak mau membayar uang Pajak Nanggroe sesuai permintaan, mendatangkan aparat ke lingkungan kampus dan untuk menarik perhatian dunia internasional. Selain terlibat pembunuhan Dayan Dawood, para tersangka juga terindikasi sebagai pelaku perampokan uang SPP mahasiswa Unsyiah sebesar Rp 200 juta tahun lalu, pembakaran Tempat Pendaratan Ikan Lampulo, Pembakaran SMU 6 Banda Aceh, Pembakaran Kantor Camat Lamgugop, menembak Briptu Hermanto, menembakkan GLM ke Kodim Banda Aceh, dan meledakkan bom molotov di beberapa tempat di Banda Aceh. Tersangka dikenakan pasal 338 undang-undang pidana tentang pembunuhan berencana dengan ancaman penjara seumur hidup atau minimal 20 tahun penjara. Juru bicara GAM wilayah Aceh Besar Muksalmina membantah keras kelompoknya terlibat penembakan Dayan Dawood. "Setiap ada kejadian apapun selalu GAM yang dituduh.Itu rekayasa RI," ujar Maksalmina. Ia juga mempertanyakan alasan tuduhan keterlibatan Ayah Sofyan setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Di sisi lain, Surya Darma membantah keras dituding adanya unsur rekayasa dalam kasus tersebut. "Kita bekerja sesuai prosedur dan data-data yang kongkrit yang kita peroleh. Demi Allah tidak ada unsur rekayasa dalam kasus ini," ujar Surya dengan nada tinggi. Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam, Irjen Polisi Yusuf Manggabarani menghimbau anggota GAM untuk kembali ke masyarakat. Menurutnya, mereka akan diperlakukan sesuai dengan jabatannya di struktur GAM. "Bagi yang hanya ikut-ikutan akan kita cari pekerjaan yang layak dan dibina di pesantren, untuk tokoh GAM setelah proses hukum akan diminta amnesty bagi mereka. Sedangkan bagi pembunuh tokoh Aceh, setelah menjalani proses hukum akan dimintakan grasi kepada presiden," ujar Yusuf.(Yuswardi A. Suud)

     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Deretan Kasus Rizieq Shihab, 11 Tuntutan dalam 9 Bulan

    Kabar kepulangan Rizieq Shihab pada 21 Februari 2018 membuat banyak pihak heboh karena sejak 2016, tercatat Rizieq sudah 11 kali dilaporkanke polisi.