Bicara Desukarnoisasi, Megawati Minta Nadiem Luruskan Sejarah 1965

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan pengarahan kepada calon kepala daerah yang direkomendasikan PDIP di Pilkada 2020. Pengarahan digelar di Kantor DPP PDIP, Jakarta, 19 Februari 2020. Tempo/Friski Riana

    Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan pengarahan kepada calon kepala daerah yang direkomendasikan PDIP di Pilkada 2020. Pengarahan digelar di Kantor DPP PDIP, Jakarta, 19 Februari 2020. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meluruskan sejarah 1956 yang terkesan dilupakan lantaran praktik desukarnoisasi Orde Baru. Padahal, menurut Megawati, Sukarno adalah sosok yang pemikirannya layak dipelajari generasi muda saat ini.

    "Saya lihat ini mau diapain sih sejarah bangsa ini. Hanya permintaan saya itu, tidakkah bisa diluruskan kembali?" kata Megawati dalam webinar Pembukaan Pameran Daring & Dialog Sejarah, Selasa, 24 November 2020.

    Pameran Daring dan Dialog Sejarah ini bertajuk "Bung Karno dan Buku-bukunya" ini diselenggarakan oleh Museum Kepresidenan Balai Kirti dan Historia. Pemimpin redaksi Historia, Bonnie Triyana, adalah sejarawan yang banyak meneliti tentang Sukarno.

    Megawati menilai sejarah di masa 1965-1967 seperti dipotong dan dihapus oleh pemerintah Orde Baru. Dia juga berpendapat banyak kalangan elite yang seakan-akan kelu untuk menyebut Sukarno sebagai proklamator.

    Putri Bung Karno ini menceritakan bagaimana pemerintah Orde Baru melarang buku-buku Sukarno, misalnya Di Bawah Bendera Revolusi. Ia pun heran mengapa buku yang merupakan jendela dunia dan ekstraksi pemikiran Sukarno itu dulu dilarang.

    Menurut Megawati, ia berbicara seperti ini bukan semata-mata karena anak Sukarno. Dia mengklaim ucapannya ini pun didasari penilaian yang fair dan obyektif terhadap sang ayah.

    Megawati juga menceritakan saat Sukarno berhasil menggelar Konferensi Asia Afrika pertama kali pada 1955. Konferensi itu, kata dia, ialah tonggak yang membuat banyak negara merdeka. Menurut Megawati, Indonesia semestinya bangga karena pencetus KAA pertama ialah Sukarno yang merupakan orang Indonesia.

    "Apa itu mau diabaikan? Saya enggak tahu, kalianlah yang mendengarkan. Saya ini kan istilahnya sudah manula toh, sebentar lagi kan fading away, jadi saya mesti cerita ini, karena penerusnya kalian," ujar Presiden ke-5 ini.

    Megawati pun mengusulkan kepada Nadiem agar buku-buku tentang Sukarno dan pemikirannya dijadikan kurikulum pendidikan. Megawati menilai buku Bung Karno adalah ekstraksi dari pikiran banyak tokoh dunia yang dikenal Bung Karno melalui buku-buku. "Saya bicara pada Pak Nadiem karena beliau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ya harus bagaimana ya, apakah hal ini tidak boleh diajarkan," kata Megawati.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pam Swakarsa, dari Reformasi hingga Wacana Calon Kapolri Listyo Sigit Prabowo

    Dalam uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri, Listyo menyampaikan berbagai gagasan akan menghidupkan kembali pam swakarsa.