Temuan Komnas HAM: Pendeta Yeremia Alami Penyiksaan Sebelum Tewas

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisioner Komnas HAM Beka Ulung, Hairansyah, Ahmad Taufan Damanik, dan Amiruddin saat menyampaikan catatan kritis Pemilu 2019 di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Kamis, 4 April 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    Komisioner Komnas HAM Beka Ulung, Hairansyah, Ahmad Taufan Damanik, dan Amiruddin saat menyampaikan catatan kritis Pemilu 2019 di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Kamis, 4 April 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Komnas HAM mengungkap laporan hasil temuan investigasi mereka terkait kematian Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua, pada 19 September 2020. Dari laporan itu diduga Pendeta Yeremia mengalami penyiksaan yang berujung pada kematiannya.

    "Pdt. Yeremia Zanambani mengalami penyiksaan dan/atau tindakan kekerasan lainnya berupa tembakan ditujukan ke lengan kiri korban dari jarak kurang dari 1 (satu) meter/jarak pendek pada saat posisi korban berlutut," kata Ketua Tim Investigasi Komnas HAM untuk kasus ini, Choirul Anam, dalam konferensi pers, Senin, 2 November 2020.

    Anam menduga penyiksaan dan atau tindakan kekerasan lainnya dilakukan terduga pelaku yang bertujuan meminta keterangan atau pengakuan dari korban.

    Anam mengatakan korban juga mengalami tindakan kekerasan lain berupa jeratan, baik menggunakan tangan ataupun alat. Hal ini diduga dilakukan untuk memaksa korban berlutut yang dibuktikan dengan jejak abu tungku yang terlihat pada lutut kanan korban.

    "Kematian Pendeta Yeremia dilakukan dengan serangkaian tindakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa di luar proses hukum atau extra judicial killing," kata Anam.

    Anam mengatakan pada tubuh Pendeta Yeremia ditemukan luka terbuka maupun luka akibat tindakan lain. Luka pada lengan kiri bagian dalam korban dengan diameter luka sekitar 5-7 cm dan panjang sekitar 10 cm merupakan luka tembak yang dilepaskan dalam jarak kurang dari 1 (satu) meter dari senjata api.

    Meski begitu, Anam dan tim berkeyakinan bahwa luka tersebut juga dimungkinkan akibat adanya kekerasan senjata tajam lainnya, karena melihat posisi ujung luka yang simetris. Selain itu, ia juga mengatakan ditemukan tindakan lain diduga berupa jejak intravital pada leher, berupa luka pada leher bagian belakang berbentuk bulat.

    "Diduga terdapat kontak fisik langsung antara korban dengan terduga pelaku saat peristiwa terjadi," kata Anam.

    Dalam temuannya, Komnas HAM juga mengatakan ada dugaan bahwa keterlibatan anggota TNI dalam kematian Pendeta Yeremia. Pasalnya sesaat sebelum kejadian, Wakil Danramil Hitadipa, Alpius Hasim Madi, menanyakan lokasi Pendeta Yeremia dan mendatangi ke kandang babi. Di lokasi itu kemudian Yeremia ditemukan telah terluka parah dan meninggal beberapa jam kemudian.

    Kepala Penerangan Komando Wilayah Gabungan Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel Czi I Gusti Nyoman Suriastawa, mengatakan mempersilakan siapa saja menduga pelaku kejadian tersebut. Meski begitu ia mengatakan belum ada bukti kuat terkait hal tersebut

    "Saat ini sedang dilakukan pendalaman oleh TGPF Intan Jaya terhadap masalah ini sehingga sebaiknya kita tunggu hasil nyatanya. Kalau memang terbukti ada oknum aparat terlibat, maka TNI akan menindak tegas terhadap oknum aparat tersebut sesuai hukum yang berlaku," kata Suriastawa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.