Ini Penjelasan Megawati Soal Kontribusi Generasi Milenial untuk Negara

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Megawati Soekarnoputri. Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

    Megawati Soekarnoputri. Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri santai menanggapi polemik ucapannya yang mempertanyakan sumbangsih generasi milenial. Ia lantas menjelaskan maksud ucapannya pada momen Sumpah Pemuda tersebut.

    Menurut dia, banyak milenial di partainya yang cenderung mejeng ketimbang belajar. "Milenial itu kan dari tahun 80 (1980), ya kira-kira kalian-kalian ada yang masuk lah. Tapi itu mejeng-mejeng doang, ya ngamuk saya," kata Megawati saat memberi arahan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Bidang Kebudayaan PDIP, Sabtu, 31 Oktober 2020.

    Megawati meminta kader PDIP untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat. Ia menyoroti sikap para kader milenial PDIP yang tak serius, misalnya saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, menghormati bendera Merah Putih, hingga menyanyikan Mars dan Hymne PDIP.

    Kendati acara partai digelar secara virtual, Megawati meminta para kader tetap disiplin. Yakni dengan tetap berpenampilan rapi, mengenakan seragam partai, dan berdandan tetapi tidak berlebihan.

    Megawati mengaku pernah melihat kader yang duduk di kursi besar semacam singgasana saat rapat virtual. Menurut dia, hal itu termasuk mejeng. "Aku bilang sama Hasto (Sekretaris Jenderal PDIP), kuwi sopo. Apa to maksudnya, kok senengnya mejeng. Ini rumah saya enggak ada mejeng-mejengan," ujar Megawati.

    Megawati mengatakan tak membutuhkan kader yang hanya mejeng atau mencari makan di partai. Menurut dia, kader-kader semacam itu lebih baik hengkang saja dari partai banteng.

    Sebaliknya, ia ingin kader PDIP belajar agar cerdas dan bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat. Ia mengatakan itu sebabnya PDIP mengundang Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati dalam Rakornas hari ini.

    Megawati mengatakan dirinya yang mencanangkan pembentukan BMKG ketika menjadi wakil presiden di era Presiden Abdurrahman Wahid. Ia mengaku terinspirasi dengan Cina yang memiliki peralatan deteksi kebencanaan canggih hingga ke kampung-kampung.

    Presiden kelima RI ini mencontohkan bencana likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah yang terjadi pada 2018. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah daerah tak mengetahui ada persoalan potensi bencana seperti itu. "Saya ingin kalian anak-anak saya belajar, jangan hanya mejeng doang," ujar Megawati.

    Pernyataan Megawati soal milenial dan sumbangsihnya ramai dibicarakan dan sempat viral di media sosial. Megawati mengaku meminta kepada Presiden Jokowi agar tak memanjakan generasi milenial. Ketika itu, Megawati juga menyinggung aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja yang marak belakangan ini.

    "Apa sumbangsih kalian terhadap bangsa dan negara ini? Masak hanya demo saja," kata Megawati, Rabu, 28 Oktober 2020.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Jaga Jarak yang Tepat Saat Covid-19

    Menjaga jarak adalah salah satu aturan utama dalam protokol Covid-19. Berikut tips untuk menjaga jarak secara efektif.