Kampus Merdeka Dorong Ilmuwan Lebih Inovatif

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sastia Prama Putri (tengah bawah), Diaspora peneliti dan dosen di Osaka University Jepang dalam webminar yang digelar Kemendikbud. (Dok.Kemendikbud.go.id)

    Sastia Prama Putri (tengah bawah), Diaspora peneliti dan dosen di Osaka University Jepang dalam webminar yang digelar Kemendikbud. (Dok.Kemendikbud.go.id)

    INFO NASIONAL-Sastia Prama Putri berhasil menemukan cara untuk membuat buah-buahan tetap prima ketika tiba di negara tujuan ekspor. Hal ini penting bagi Indonesia. Temuan ini akan menyelesaikan salah satu tantangan terbesar dalam ekspor komoditas ini, yaitu membuat buah tetap segar hingga ke tangan pembeli.

    Akan tetapi, Sastia menemukan cara tersebut di negeri orang. Ia adalah asisten profesor di Departemen Bioteknologi, Fakultas Teknik Osaka University, Jepang. Oleh karena itu, perempuan yang menyelesaikan jenjang S2 dan S3 kampus yang sama dalam waktu 3,5 tahun ini berharap pemerintah Indonesia mendorong lahirnya karya inovatif di dalam negeri. “Kebijakan pemerintah harus lebih berpihak dan mendukung inovasi,” ujarnya, ketika diwawancara untuk peringatan Hari Inovasi Indonesia 1 November 2020.

    Pemerintah pun punya keinginan yang sama. Melalui konsep Kampus Merdeka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong civitas akademika perguruan tinggi untuk lebih inovatif. “Melalui kebijakan Kampus Merdeka kami buka kesempatan tiga semester dari delapan semester bagi mahasiswa untuk melakukan pembelajaran imersif di luar prodi. Salah satunya mereka bisa melakukan penelitian,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. 

    Nadiem mengatakan, kebijakan Kampus Merdeka menjadi jawaban agar inovasi dan penelitian tumbuh dalam ekosistem yang saling mendukung. Ia optimistis kebijakan ini menjembatani peluang yang lebih besar bagi mahasiswa dan perguruan tinggi untuk terlibat di bidang penelitian dan teknologi.

    Mendikbud mengatakan, Kemendikbud menerapkan kebijakan Merdeka Belajar agar sekolah melakukan inovasi proses pembelajaran di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.  “Kita hubungkan apa yang dilakukan dunia pendidikan dengan di luar sekolah dan kampus. Dengan begitu, murid-murid kita akan peka dengan kondisi di masyarakat, serta paham kebutuhan dunia kerja dan industri,” ujarnya.

    Kemendikbud juga mendorong guru melakukan inovasi proses pembelajaran. Ia mengimbau guru mulai melakukan perubahan kecil dari ruang kelas. “Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak,” kata Nadiem.

    Menteri Nadiem juga menyampaikan pentingnya seluruh pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan mendukung terbentuknya profil Pelajar Pancasila. “Seluruh kebijakan Merdeka Belajar berujung pada cita-cita membentuk Pelajar Pancasila,” ujarnya. 

    Demi membentuk karakter Pelajar Pancasila tersebut, Kemendikbud juga melakukan berbagai inovasi dalam penguatan karakter pelajar, melalui  Pusat Penguatan Karakter (Puspeka). Inovasi Puspeka antara lain berupa penyelenggaraan berbagai program edukatif bertajuk belajar dari rumah (BdR). Misalnya, saat peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2020, Puspeka mengadakan serangkaian acara untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui gotong-royong dan toleransi. 

    Melalui program-program yang dikembangkan diharapkan terbentuk karakter Pelajar Pancasila, yakni pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

    “Enam ciri utamanya yakni, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berahlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif,” kata Kepala Puspeka Hendarman. (*)


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu Satelit Orbit 123 derajat BT dan Kronologi Kekisruhannya?

    Kejaksaan Agung menilai pengelolaan slot satelit orbit 123 derajat BT dilakukan dengan buruk. Sejumlah pejabat di Kemenhan diduga terlibat.