KSP akan Laporkan Sepeda dari Daniel Mananta Buat Jokowi ke KPK

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengisi akhir pekan dengan bersepeda di area Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor, Sabtu, 22 Agustus 2020. Presiden gowes ditemani putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengisi akhir pekan dengan bersepeda di area Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor, Sabtu, 22 Agustus 2020. Presiden gowes ditemani putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Kantor Staf Kepresidenan (KSP) akan melaporkan hadiah sepeda lipat untuk Presiden Joko Widodo atau Jokowi, yang berasal dari presenter Daniel Mananta dan PT Roda Maju Bahagia ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Menurut Kepala Sekretariat KSP, Yan Adikusuma sepeda tersebut masih berada di KSP. “Kemarin, sesuai instruksi Kepala Staf Kepresidenan, Pak Moeldoko, barang-barang tersebut akan kami laporkan ke KPK untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujar Yan lewat keterangan tertulis, Selasa, 27 Oktober 2020.

    Yan memastikan hingga saat ini sepeda tersebut belum diserahkan kepada pihak Istana. "Semua sepeda yang masih ada di KSP dan segera kami laporkan ke KPK," ujar Yan.

    Sebelumnya, Daniel Mananta menyerahkan sejumlah sepeda untuk Presiden Jokowi dalam rangka perayaan sumpah pemuda 28 Oktober melalui KSP.

    Sesuai UU, penyampaian laporan penerimaan gratifikasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak barang tersebut diterima. Selanjutnya, setelah laporan diterima KPK akan menganalisis dan menetapkan status sumbangan sepeda tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.