Soal Hasil Survei Indikator, Polri Bantah Semena-Mena Tangkap Warga

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono. ANTARA/ HO-Polri

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono. ANTARA/ HO-Polri

    TEMPO.CO, Jakarta - Mabes Polri membantah tudingan bahwa aparat semakin bertindak semena-mena terhadap masyarakat yang berbeda pendapat. Hal tersebut berdasar pada hasil temuan survei Indikator Politik Indonesia, kemarin.

    "Polri sangat menghormati apapun hasil dari lembaga survei," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono saat dihubungi Tempo, Senin, 26 Oktober 2020.

    Meski begitu Awi mengatakan secara prinsip, Polri tetap mempertanyakan tindakan sewenang-wenang apa yang dimaksud. Pasalnya, ia mengatakan selama ini ia meyakini Polri sudah menjalankan hukum sesuai prosedur yang ada.

    Bila ada masyarakat tidak setuju atas penangkapan polisi, ia mengatakan dalam sistem peradilan pidana ada mekanisme praperadilan. Ia mempersilahkan masyarakat mengajukan praperadilan (sesuai legal standing tersangka/pengacaranya), bila menilai polisi dianggap sewenang-wenang dalam penangkapan.

    "Nanti ada tim dari Polri yang akan hadapi, biar kan hakim yang akan menilai bukan sekedar opini," kata Awi.

    Sebelumnya, hasil sigi dari Indikator Politik Indonesia mengungkap bahwa sebesar 57,7 persen menganggap aparat semakin semena-mena dalam menangkap warga yang tak sejalan pandangan politiknya dengan pemerintah.

    "Publik menilai bahwa Indonesia makin tidak demokratis, semakin takut warga menyatakan pendapat, semakin sulit warga berdemonstrasi, dan aparat dinilai semakin semena-mena, maka kepuasan atas kinerja demokrasi semakin tertekan," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, kemarin.

    Survei tersebut dilakukan pada 24 September hingga 30 September 2020 dengan menggunakan panggilan telepon karena pandemi Covid-19. Metode yang digunakan adalah simple random sampling dengan 1.200 responden yang dipilih secara acak berdasarkan data survei tatap muka langsung sebelumnya pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.

    Adapun margin of error sekitar 12.9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional

    EGI ADYATAMA | DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    INFO 7 Tips Mengajar di Masa Pandemi Covid-19

    Pandemi akibat wabah virus corona memaksa siswa berdiam di rumah. Mendikbud Nadiem Makarim memiliki 7 tips mengajar di masa pandemi Covid-19.