Bareskrim Gunakan Satelit Cek Titik Awal Api Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Inafis Mabes Polri saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) terkait kebakaran yang melanda Gedung Utama Kejaksaan Agung di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2020. Peristiwa kebakaran di Kejaksaan Agung RI dilaporkan pada Sabtu malam pukul 19.10. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Tim Inafis Mabes Polri saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) terkait kebakaran yang melanda Gedung Utama Kejaksaan Agung di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2020. Peristiwa kebakaran di Kejaksaan Agung RI dilaporkan pada Sabtu malam pukul 19.10. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Reserse Kriminal Polri menggunakan satelit untuk mengungkap lokasi titik awal api dalam kasus kebakaran gedung Kejaksaan Agung.

    Direktur Tindak Pidana Umum Brigadir Jenderal Ferdy Sambo menjelaskan, satelit digunakan untuk meyakinkan titik awal api lantaran banyaknya spekulasi yang beredar. Polri pun meminjam satelit tersebut dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

    "Satelit ini biasa digunakan untuk mengecek kebakaran di lahan. Ini bisa menembus dan mengetahui dari mana titik api. Kami koordinasi dengan IPB untuk menggunakan satelit ini karena banyak spekulasi di luar bahwa titik api ini banyak, sehingga kami harus pakai teknologi untuk menentukan apakah benar banyak titik api," ujar Ferdy di kantornya, Jakarta Selatan, pada Jumat, 23 Oktober 2020.

    Dari satelit itu kemudian didapatkan bahwa sumber api berasal dari Aula Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung yang terletak di lantai enam. Namun, tak hanya menggunakan satelit, penyidik, kata Ferdy, juga sebelumnya telah memeriksa 64 orang saksi dan sejumlah saksi ahli seperti ahli kebakaran dari IPB dan UI.

    Adapun untuk penyebab, Ferdy memaparkan bahwa kebakaran terjadi akibat nyala api terbuka yang berasal dari puntung rokok. Api kemudian menjalar dengan cepat setelah dipicu adanya penggunaan cairan pembersih yang mengandung minyak lobi.

    Alhasil, Bareskrim menetapkan delapan orang sebagai tersangka. Mereka adalah lima tukang yang bekerja (T, H, S, K, IS) mandor dari para tukang (UAN), Direktur PT APM (R), dan Direktur Pejabat Pembuat Komitmen Kejaksaan Agung (NH).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.