Drone Emprit: Ketidakpercayaan Pemerintah Tangani Covid-19 Dominasi Opini Publik

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tenaga kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap memberikan sample tes usap (swab test) milik warga ke dalam mobil tes polymerase chain reaction (PCR) atau Mobile Combat COVID-19 di kawasan Pasar Keputran, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 17 September 2020. Pemerintah Kota Surabaya menyediakan 500 kuota tes usap secara gratis bagi warga Surabaya yang melintas di kawasan tersebut. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    Seorang tenaga kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap memberikan sample tes usap (swab test) milik warga ke dalam mobil tes polymerase chain reaction (PCR) atau Mobile Combat COVID-19 di kawasan Pasar Keputran, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 17 September 2020. Pemerintah Kota Surabaya menyediakan 500 kuota tes usap secara gratis bagi warga Surabaya yang melintas di kawasan tersebut. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengatakan tanggapan warganet atas penanganan Covid-19 oleh pemerintah lebih dominan terkait ketidakpercayaan.

    "Lebih dominan ketidakpercayaan terhadap keseriusan pemerintah dalam menangani Covid-19," kata Ismail dalam webinar, Rabu, 14 Oktober 2020. Drone Emprit adalah sistem yang memonitor serta menganalisis percakapan di media sosial dan platform online berdasarkan big data.

    Temuan tersebut terekam dalam analisis Drone Emprit pada 14 September-13 Oktober 2020. Drone Emprit mengamati kata kunci pemerintah, Indonesia, pemprov, gubernur, wali kota, kabupaten, propinsi di Twitter.

    Dalam kurun waktu tersebut, total ada 153.580 pengguna Twitter aktif bercakap mengenai Covid-19. Namun hanya 38 persen atau 58 ribu pengguna yang berhasil diidentifikasi usianya. "Dari angka yg paling banyak usia 19-29 tahun. Gen Z dan Y," ujarnya.

    Ismail mengatakan, warganet di Twitter membandingkan dengan Omnibus Law yang digarap sangat serius oleh pemerintah. Selain itu, warganet juga menilai langkah dan strategi penanganan Covid-19 yang diambil pemerintah tidak jelas.

    Ketidakpercayaan ini menempati urutan tertinggi yang terekam dalam analisis emosi Drone Emprit. Menyusul di bawahnya adalah emosi kesedihan terkait Sekretaris Daerah DKI Saefullah yang meninggal karena Covid-19. Kemudian emosi ketakutan terkait laju sebaran virus yang meningkat.

    Beberapa akun yang cuitannya paling banyak dicuit ulang, di antaranya @mustafarawk (warganet) mencuit tentang ibunya yang meninggal akibat Covid-19. Juga ia dan keluarganya yang positif setelah tes swab, padahal sudah sekuat tenaga menjaga diri. Akun bernama Mustafa itu juga mengaku kecewa dengan penanganan pasien Covid-19.

    Kemudian akun @nypost (media asing) yang mengunggah berita mengenai warga Indonesia yang antimasker dikenai hukuman menggali kuburan jenazah yang menjadi korban Covid-19.

    Akun para tokoh nasional juga ramai ditanggapi warganet. Seperti Emil Salim yang mempertanyakan kerja cepat pemerintah dan DPR merampungkan UU Cipta Kerja juga diterapkan saat mengatasi Covid-19. Cuitan lainnya disiplin penduduk mengenai 3M juga diimbangi dengan disiplin pemerintah dalam 3T.

    Selain Emil Salim, akun Said Didu yang mengunggah daftar sejumlah hal yang akan menghancurkan negara juga dicuit ulang ribuan warganet. Menurut Ismail, warganet merasa terwakili dengan cuitan Didu.

    Selain itu, cuitan warganet bernama Beruang Kutub yang memaparkan kesalahan besar sistem kesehatan di Indonesia setelah 7 bulan pandemi. Juga warganet yang hilang harapan terhadap pemerintah setelah kabar Akmal Taher mundur sebagai Ketua Bidang Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggunaan Masker Bagi Sebagian Orang Bisa Menimbulkan Jerawat

    Saat pandemi seperti sekarang ini penggunaan masker adalah hal yang wajib dilakukan.