Cegah Klaster Demo, Satgas Covid-19 Minta Perusahaan Bentuk Satgas Internal

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan massa aksi 1310 memadati kawasan sekitar Patung Kuda Monas, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2020. Ketua Media Center Persatuan Alumni atau PA 212 Novel Bamukmin mengklaim jumlah peserta Aksi 1310 Omnibus Law hari ini mencapai 10 ribu orang.  TEMPO/Subekti

    Ribuan massa aksi 1310 memadati kawasan sekitar Patung Kuda Monas, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2020. Ketua Media Center Persatuan Alumni atau PA 212 Novel Bamukmin mengklaim jumlah peserta Aksi 1310 Omnibus Law hari ini mencapai 10 ribu orang. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Satuan Tugas Penanganan atau Satgas Covid-19 meminta perusahaan membentuk satgas sendiri untuk screening kepada para buruh yang ikut demonstrasi menolak UU Cipta Kerja. Hal ini, demi mencegah meluasnya klaster demo.

    "Bagi kelompok buruh, Satgas meminta agar segera dibentuk satgas Covid-19 di tingkat perusahaan. Satgas di tingkat perusahaan ini selanjutnya dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk melakukan screening kepada buruh yang mengikuti aksi penyampaikan aspirasi," ujar Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito dalam konferensi pers, Senin, 13 Oktober 2020.

    Dengan adanya satgas tingkat perusahaan ini, ujar Wiku, akan mempermudah contact tracing. "Jika nanti mereka yang hasil testingnya reaktif, maka dapat segera dapat ditelusuri kontak terdekatnya," ujar Wiku.

    Sejauh ini, kata Wiku, banyak demonstran aksi menolak omnibus law UU Cipta Kerja tercatat reaktif berdasarkan rapid test. Dari data sementara massa yang ditangkap kepolisian dan TNI, ditemukan 21 dari 253 demonstran reaktif di Sumatera Utara.

    Selanjutnya, Wiku mengatakan di DKI Jakarta, 34 orang dari 1.192 demonstran yang ditahan reaktif. Di Jawa Timur, 24 dari 650 demonstran yang ditahan juga reaktif Covid-19; di Sulawesi Selatan 30 dari 261 orang; di Jawa Barat, 13 dari 39 orang; dan di Yogyakarta 1 dari 95 orang.

    "Ini adalah cerminan puncak gunung es dari hasil pemeriksaan, yang merupakan contoh kecil saja bahwa virus ini dapat menyebar dengan cepat dan luas," ujar Wiku.

    Selain kelompok buruh, Wiku juga mengingatkan pihak universitas yang mahasiswanya mengikuti aksi dan TNI/Polri yang mengawal aksi  untuk melakukan identifikasi serta testing.

    "Bagi masyarakat yang anggota keluarganya mengikuti aksi tersebut, juga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila ada yang mengalami gejala Covid-19. Sehingga dapat dipastikan status kesehatannya," ujar Wiku.

    Wiku juga mengingatkan pendemo untuk selalu mematuhi protokol kesehatan. Satgas mengingatkan agar pendemo selalu #menjagajarak, #memakaimasker, dan #rajinmencucitangan.

    "Bagi masyarakat yang memilih berdemonstrasi, ingat bahwa demonstrasi tidak akan kehilangan esensinya jika kita tetap berlaku damai dan patuh pada protokol kesehatan," kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito lewat konferensi pers daring di Youtube BNPB, Selasa, 13 Oktober 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    INFO Gotong Royong Solid Di Masa Sulit Untuk Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia

    Kemendikbud mengajak untuk bergotong royong dan bekerja sama memastikan pembelajaran tetap berlangsung walaupun peserta didik tidak dapat hadir.