Minta Bantuan ke WHO, Wiku: Alat Tes Antigen Lebih Akurat Ketimbang Rapid Test

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tanggal2020-07-23DeskripsiWiku Adisasmito merupakan Guru Besar yang mendalami kebijakan kesehatan di bidang sistem kesehatan dan penanggulangan penyakit infeksi. Dia juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia untuk beberapa mata kuliah sarjana dan pascasarjana terkait analisis dan pembuatan kebijakan kesehatan. Covid19.go.id

    Tanggal2020-07-23DeskripsiWiku Adisasmito merupakan Guru Besar yang mendalami kebijakan kesehatan di bidang sistem kesehatan dan penanggulangan penyakit infeksi. Dia juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia untuk beberapa mata kuliah sarjana dan pascasarjana terkait analisis dan pembuatan kebijakan kesehatan. Covid19.go.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia telah mengajukan permohonan bantuan alat tes Covid-19 berbasis antigen kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

    Juru bicara Satuan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito berharap alat tes ini lebih akurat ketimbang rapid tes yang berbasis antibodi. "Akurasi dari tes ini akan lebih tinggi karena menggunakan antigen," kata Wiku, Kamis, 1 Oktober 2020. 

    Wiku mengatakan bahwa WHO telah menyediakan 120 juta tes cepat berbasis antigen ini untuk 133 negara di dunia. Yang menjadi prioritas adalah negara-negara middle income country dan negara-negara dengan jumlah kasus besar. Wiku pun mengatakan hasil tes ini bisa keluar hanya dalam waktu 15 hingga 30 menit.

    Meski begitu, ia menegaskan rapid test antigen ini nantinya tetap hanya akan digunakan untuk screening saja. Tes ini, bukan untuk mendiagnosa pasti seseorang terpapar Covid-19 atau tidak.

    "Dalam rangka proses screening, sebelum selanjutnya dilakukan tes penegakan diagnosa dengan real time PCR," kata Wiku.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    INFO Gotong Royong Solid Di Masa Sulit Untuk Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia

    Kemendikbud mengajak untuk bergotong royong dan bekerja sama memastikan pembelajaran tetap berlangsung walaupun peserta didik tidak dapat hadir.