Minta Pilkada 2020 Ditunda, Mer-C: Ingat Banyak KPPS Meninggal di Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas KPPS memberikan surat suara kepada pemilih saat simulasi pemungutan suara Pilkada Serentak 2020 di Kantor KPU, Jakarta, 22 Juli 2020. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar simulasi pemungutan suara dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat sebagai upaya pencegahan COVID-19 dalam Pilkada Serentak 2020 yang digelar pada 9 Desember 2020 mendatang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas KPPS memberikan surat suara kepada pemilih saat simulasi pemungutan suara Pilkada Serentak 2020 di Kantor KPU, Jakarta, 22 Juli 2020. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar simulasi pemungutan suara dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat sebagai upaya pencegahan COVID-19 dalam Pilkada Serentak 2020 yang digelar pada 9 Desember 2020 mendatang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga medis dan kemanusiaan, Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C Indonesia, meminta KPU dan pemerintah menunda pelaksanaan Pilkada 2020.

    "Sedikit kami ingatkan kembali, KPU jangan lupakan kejadian tahun 2019," kata Presidium MER-C Indonesia, Yogi Prabowo, dalam konferensi pers, Rabu, 30 September 2020.

    Yogi mengatakan, pada Pilpres 2019, ada 800 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal. Juga puluhan ribu jiwa jatuh sakit hingga dirawat.

    Menurut Yogi, banyak spekulasi berkembang mengenai penyebab kematian para petugas KPPS. Namun, dari yang terlihat secara kasat mata, faktor berat dan lama kerjanya yang diemban petugas lah yang mengakibatkan sakit dan kematian.

    Situasi tersebut, kata dia, diperburuk dengan kesiapan penanganan medis yang tidak optimal. "Sistem rujukan kegawatdaruratan media yang disiapkan belum mampu menangani KPPS yang mendadak sakit," ujarnya.

    Hasil investigasi MER-C Indonesia juga menunjukkan bahwa petugas KPPS mengeluhkan sakit dada yang disinyalir jantung. Mereka dibawa ke puskesmas, RS kecamatan, RS tipe c atau bahkan tidak berobat.

    Namun, kondisi mereka tidak berhasil diselamatkan. "Artinya sistem rujukan apabila petugas ada yang sakit, kita belum siap. Kami me-warning betul," katanya.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Kasus Rangga, Bocah Yang Cegah Ibu Diperkosa

    Pada Kamis, 15 Oktober 2020, tagar #selamatjalanrangga trending di Facebook dan Twitter.