Survei: 60 Persen APD Dokter Residen Hasil Donasi

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi alat perlindungan diri (APD). REUTERS

    Ilustrasi alat perlindungan diri (APD). REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi mengatakan alat pelindung diri atau APD yang digunakan oleh dokter residen alias calon dokter spesialis selama bertugas, kebanyakan adalah hasil sumbangan. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Tim Koordinator Dokter Residen beberapa waktu belakangan.

    "63 persen menyatakan bahwa penyediaan APD itu dapat bantuan dari donasi. Ada dari pemerintah, tapi 63 persen dapatnya dari donasi," kata Adib saat dihubungi Tempo, Sabtu, 26 September 2020.

    Survei ini dilakukan terhadap 7.280 dokter residen atau mencakup 54,54 persen dari 13.355 orang dokter residen. Survei yang dilakukan pada 3-5 Agustus 2020 lalu ini dilakukan kepada dokter residen asal 17 dari 18 Perguruan Tinggi Negeri dan 35 Program Studi spesialis.

    Adib mengatakan donasi APD dari masyarakat memang terhitung cukup banyak. Selain dari donasi, mereka juga mendapat APD dari rumah sakit tempat bekerja, atau bahkan ada juga yang mengusahakan sendiri. Namun Adib mengatakan hal ini menunjukkan masih bermasalahnya perlindungan kepada dokter residen atau bahkan kepada tenaga kesehatan secara umum.

    Hal ini juga akhirnya berimplikasi pada jumlah dokter residen yang terpapar Covid-19. Dari hasil survei tersebut, Adib mengatakan sejak Maret hingga 5 Agustus 2020 lalu, 5,8 persen atau 423 orang residen pernah swab dengan hasil positif.

    "Ini cukup tinggi. Karena memang mereka termasuk kalau di layanan rumah sakit pendidikan atau rumah sakit rujukan, mereka termasuk yang garda terdepan, selain teman-teman UGD, dokter umum, atau dokter spesialis lainnya," kata Adib.

    Adib kemudian mengatakan angka ini bisa jadi bukan angka riil. Pasalnya, dari hasil survei yang sama, menyebutkan bahwa 31 persen responden belum mendapatkan swab dari sejak pandemi hingga survei dilaksanakan.

    "Kemungkinannya ada dua, karena dia memang tidak mendapatkan atau memang belum mendapatkan," kata Adib.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Traveling Virtual di Masa Pandemi Covid-19

    Dorongan untuk tetap berjalan-jalan dan bertamasya selama pandemi Covid-19 masih tinggi.