AHY Ceritakan Cara SBY Atasi Krisis Ekonomi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menceritakan pengalaman ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono atau disapa SBY, saat menghadapi krisis ekonomi global pada 2008. Sebagai presiden Indonesia, kata dia, SBY saat itu mampu menjaga perekonomian nasional dari kelumpuhan. 

    Menurut AHY, dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini yang diakibatkan pandemi virus corona pemerintah bisa meniru cara SBY 12 tahun lalu. "Saya yakin, bahwa sekarang pun, kita bisa melakukan hal yang sama," kata AHY dalam pidatonya, Jumat, 25 September 2020. 

    AHY berujar pada 2008 perekonomian Indonesia bisa bertahan dari krisis karena ada kesatuan komando dan kerja sama yang baik antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan dukungan dari masyarakat.

    "Di bawah kepemimpinan Presiden SBY, dan Partai Demokrat, sebagai the ruling party, kita bersama-sama, bisa keluar dari krisis itu," tuturnya. 

    Saat itu, kata AHY, pemerintahan SBY menerapkan strategi menjaga daya beli masyarakat sehingga roda perekonomian tetap berputar. Caranya dengan memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat miskin dan kurang mampu dan bantuan ke dunia usaha untuk mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

    "Kebijakan stimulus fiskal, juga mampu menjaga kepercayaan pasar, di Indonesia," ucap dia.

    Menurut AHY, meski ada perbedaan dari segi penyebab krisisnya, yakni krisis 2008 akibat masalah finansial di Amerika Serikat dan krisis saat ini akibat Covid-19 keduanya memiliki dampak yang sama, yakni terjadinya krisis ekonomi global.  

    Dampak dari krisis kesehatan ini membuat ekonomi Indonesia terpukul. Pertumbuhan ekonomi turun sekitar 8 persen, dari yang semula 2,97 persen di kuartal I, menjadi minus 5,32 persen di kuartal II. Sementara, pada kuartal III ini, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi, masih negatif sehingga Indonesia berada di tepi jurang resesi. 

    Guna mengatasi tekanan ekonomi akibat pandemi ini, kata AHY, yang diperlukan adalah upaya yang konseptual, sistematis, dan nyata. Kelumpuhan ekonomi harus segera dihidupkan kembali agar ancaman resesi yang dalam dan berkepanjangan dapat dicegah.  

    "Pertumbuhan dapat ditingkatkan lagi, lapangan pekerjaan dapat diciptakan lebih banyak, kemiskinan dapat dicegah, untuk tidak makin memburuk, serta dunia usaha, termasuk UMKM, dapat digerakkan kembali," kata AHY. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.