Menteri Nadiem Jelaskan Mengapa Bantuan Kuota Internet Dibagi 2 Paket

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu 8 Juli 2020. (ANTARA/HO- Humas Kemendikbud)

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu 8 Juli 2020. (ANTARA/HO- Humas Kemendikbud)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendibud membagi dua paket bantuan kuota internet yang diberikan kepada siswa, guru, mahasiswa, dan dosen.

    Di mana, ada paket kuota umum dan paket kuota belajar dari total kuota yang disalurkan ke setiap individu. "Tentunya pemerintah melakukan subsidi ini untuk memastikan bahwa ini untuk belajar dan bukan untuk fungsi lain. Makanya kuota umum porsinya lebih kecil," ucap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui konferensi pers daring pada Jumat, 25 September 2020.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan bantuan kuota internet kepada siswa, guru, mahasiswa, dan dosen selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini. Bantuan tersebut disalurkan selama empat bulan, pada September-Desember 2020.

    "Besaran kuota untuk PAUD adalah 20gb/bulan, lalu untuk SD-SMA adalah 35gb/bulan. Sedangkan untuk guru PAUD-SMA adalah 42gb/bulan dan mahasiswa serta dosen adalah 50gb/bulan. Dari total masing-masing kuota ini, hanya 5gb yang bisa dipakai sebagai kuota umum," kata Nadiem.

    Adapun jika ada aplikasi belajar yang belum bisa diakses dengan kuota internet belajar, maka Nadiem meminta masyarakat untuk melaporkan agar pihaknya bisa memasukkan aplikasi tersebut.

    "Ini adalah kuota pembelajaran. Bukan untuk main games atau entertainment atau nonton video-video. Jadi itu alasan kami mengapa membaginya ke dua paket," ucap Nadiem.

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.