500 Tenaga Kesehatan Ajukan Surat Terbuka ke Jokowi Soal Kebakaran Hutan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersiap menyampaikan pidato untuk ditayangkan dalam Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu 23 September 2020. Dalam pidatonya Presiden Joko Widodo mengajak pemimpin dunia untuk bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/HO/Setpres-Lukas

    Presiden Joko Widodo bersiap menyampaikan pidato untuk ditayangkan dalam Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu 23 September 2020. Dalam pidatonya Presiden Joko Widodo mengajak pemimpin dunia untuk bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/HO/Setpres-Lukas

    TEMPO.CO, Jakarta - Lebih dari 500 tenaga Kesehatan professional menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Lewat surat ini, para tenaga kesehatan menyerukan kepada pemerintah untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan di era pandemi Covid-19 saat ini.

    “Saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan sejawat yang sudah meluangkan waktu untuk mendukung dengan menandatangani surat terbuka ini," kata Monica Nirmala dari Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), inisiator dari penyampaian surat ini dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, 24 September 2020.

    Surat ini dibacakan oleh Arif Wicaksono, M.Biomed, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Surat dibacakan dalam webinar Tempo bersama Yayasan ASRI dan Yayasan Madani Berkelanjutan.

    Monica yang juga seorang dokter gigi ini menyampaikan bahwa persoalan kesehatan masyarakat harus diselesaikan dari hulu ke hilir. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta deforestasi juga termasuk di dalamnya.

    Jangan sampai, kata Monica, kesehatan masyarakat semakin terbebani dengan bencana asap kebakaran hutan dan lahan, di tengah situasi pandemi ini. Di sisi lain, Monica menyebut saat ini beruntung musim kemarau tidak sekering dan sepanjang dari biasanya. 

    Berdasarkan data pemerintah, terdapat sekitar 64.600 hektare area terbakar yang terjadi selama periode Januari-Juli 2020. Meski demikian, Yayasan Madani Berkelanjutan juga melakukan analisis sendiri.

    Hasilnya, terjadi perluasan area potensi terbakar (APT) dari luasan 18.000 hektare di bulan Juli, menjadi 84.000 hektare di bulan Agustus. Walau mulai September 2020, pada saat musim kemarau mulai beralih ke musim penghujan, titik-titik hotspot sudah mulai berkurang.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggunaan Masker Bagi Sebagian Orang Bisa Menimbulkan Jerawat

    Saat pandemi seperti sekarang ini penggunaan masker adalah hal yang wajib dilakukan.