Ma'ruf Amin Dorong NU Manfaatkan Teknologi Digital untuk Berdakwah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengikuti peringatan Hari Konstitusi Tahun 2020 secara virtual dari kediaman dinas wapres di Jakarta, Selasa 18 Agustus 2020. Asdep Komunikasi dan Informasi Publik (KIP) Setwapres

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengikuti peringatan Hari Konstitusi Tahun 2020 secara virtual dari kediaman dinas wapres di Jakarta, Selasa 18 Agustus 2020. Asdep Komunikasi dan Informasi Publik (KIP) Setwapres

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mendorong agar pengurus Nahdlatul Ulama (NU) memanfaatkan teknologi untuk berdakwah.

    "Saat ini NU masih terlalu sedikit dalam menggunakan metode dakwah dengan teknologi digital," kata Ma'ruf dalam Konferensi Besar NU yang digelar secara daring, Rabu, 23 September 2020.

    Ma'ruf mengatakan, penguasaan teknologi digital sebagai alat dakwah masa kini dan masa depan merupakan tantangan dalam berorganisasi. Sistem dakwah melalui teknologi digital akan lebih efektif.

    "Karena memungkinkan masyarakat untuk menyimak dakwah kapan saja, di mana saja, dan waktunya pun lebih fleksibel, terutama untuk generasi milenial dan generasi Z," katanya.

    Selain teknologi, Ma'ruf menilai NU belum maksimal membangun gerakan ekonomi warga NU. Selama ini, kata dia, yang dilakukan NU baru sebatas ijtima'at atau pertemuan dan keputusan organisatoris tentang pengembangan ekonomi.

    "NU kurang responsif terhadap perkembangan ekonomi. Padahal potensi dan jaringan yang dimiliki NU dalam bidang ini sangatlah besar," ujarnya.

    Tantangan lainnya untuk NU, Ma'ruf menyebutkan pengembangan bidang pendidikan diniyah maupun umum, termasuk pesantren dan pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan NU diminta menyiapkan sumber daya manusia berkualitas, menguasai teknologi, dan inovatif.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.