Jokowi: Vaksin Covid-19 Akan Jadi Game Changer dalam Perang Melawan Pandemi

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kanan) mengikuti sesi pleno KTT ke-35 ASEAN di Bangkok, Thailand, Sabtu, 2 November 2019.  Jokowi juga memiliki agenda untuk mengadakan pertemuan bilateral bersama beberapa negara sahabat seperti Selandia Baru, Australia, India, Jepang serta Sekjen PBB. ANTARA

    Presiden Joko Widodo (kanan) mengikuti sesi pleno KTT ke-35 ASEAN di Bangkok, Thailand, Sabtu, 2 November 2019. Jokowi juga memiliki agenda untuk mengadakan pertemuan bilateral bersama beberapa negara sahabat seperti Selandia Baru, Australia, India, Jepang serta Sekjen PBB. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan ketersediaan vaksin Covid-19 akan menjadi game changer dalam perang global melawan pandemi Covid-19. Hal itu disampaikan Jokowi dalam pidatonya pada sesi debat umum Sidang Majelis Umum ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) .

    "Vaksin akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi. Kita harus bekerja sama untuk memastikan bahwa semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau," ujar Jokowi seperti disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden pada Rabu, 23 September 2020.

    Untuk jangka yang lebih panjang, Jokowi menilai tata kelola ketahanan kesehatan dunia harus lebih diperkuat. Dari sisi ekonomi, Jokowi memandang bahwa reaktivasi kegiatan ekonomi secara bertahap harus mulai dilakukan dengan melakukan koreksi terhadap kelemahan-kelemahan global supply chain yang ada saat ini. Aktivasi ekonomi harus memprioritaskan kesehatan warga dunia.

    "Dunia yang sehat, dunia yang produktif harus menjadi prioritas kita. Semua itu dapat tercapai jika kita semua bekerja sama, bekerja sama, dan bekerja sama. Mari kita memperkuat komitmen dan konsisten menjalankan komitmen untuk selalu bekerja sama," ujarnya.

    Di tengah pandemi ini, ujar Jokowi seharusnya semua bersatu padu bekerja sama melawan pandemi. "Tapi, justru kita lihat adalah masih terjadinya perpecahan dan rivalitas yang semakin menajam. Jika perpecahan dan rivalitas terus terjadi, maka saya khawatir pijakan bagi stabilitas dan perdamaian yang lestari akan goyah atau bahkan akan sirna. Dunia yang damai, stabil, dan sejahtera semakin sulit diwujudkan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Traveling Virtual di Masa Pandemi Covid-19

    Dorongan untuk tetap berjalan-jalan dan bertamasya selama pandemi Covid-19 masih tinggi.