Konfirmasi Bukti Perjalanan Jaksa Pinangki, Kejagung Periksa 3 Manajer Garuda

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka kasus pencucian uang Jaksa Pinangki Sirna Malasari bersiap menjalani pemeriksaan di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu, 2 September 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Tersangka kasus pencucian uang Jaksa Pinangki Sirna Malasari bersiap menjalani pemeriksaan di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu, 2 September 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kejaksaan Agung memeriksa Manager Station Automation System Garuda Indonesia, M. Oki Zuheimi, sebagai saksi pada hari ini, Senin, 21 September 2020. Ia diperiksa terkait kasus Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Djoko Tjandra.

    "Saudara Muhammad Oki Zuheimi diperiksa untuk tersangka JST (Djoko Tjandra) dan AIJ (Andi Irfan Jaya)," ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono melalui keterangan tertulis pada Senin, 21 September 2020.

    Selain Oki Zuheimi, penyidik juga memeriksa Manager Fraud Prevention Garuda Indonesia, Herunata Joseph, dan Manager Reservation, Ticketing, & Distribution System Garuda Indonesia, Yeno Danita.

    Hari mengatakan, pemeriksaan terhadap ketiga saksi tersebut guna mengkonfirmasi bukti tentang perjalanan keluar negeri Jaksa Pinangki bersama Andi Irfan yang untuk bertemu dengan Djoko Tjandra.

    Dalam kasus dugaan gratifikasi kepengurusan fatwa bebas dari Mahkamah Agung (MA) ini, Kejaksaan Agung telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Mereka adalah Jaksa Pinangki, Djoko Tjandra, dan Andi Irfan Jaya.

    Jaksa Pinangki disebut-sebut telah menerima suap sebesar USD 500 ribu atau sekitar Rp 7,4 miliar setelah berhasil membuat Djoko Tjandra menerima proposalnya yang berisi penawaran penyelesaian kasus. Sementara Andi Irfan Jaya yang diduga menjadi perantara pemberian uang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.