Dugaan Penembakan Pendeta Oleh TNI, Gereja akan Temui Pangdam Cenderawasih

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penembakan. timeout.com

    Ilustrasi penembakan. timeout.com

    TEMPO.CO, Jakarta-Pimpinan Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) wilayah Papua akan menemui Panglima Komando Daerah Militer Cenderawasih pada Selasa besok, 22 September 2020. Kunjungan ini menyusul peristiwa meninggalnya Pendeta Yeremia Zanambani yang diduga ditembak oknum Tentara Nasional Indonesia di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

    "Pimpinan wilayah akan menemui pihak Pangdam besok. Kami akan sampaikan semua hasil temuan kami dari lapangan," kata Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Daniel Ronda kepada Tempo, Senin, 21 September 2020.

    Daniel mengatakan GKII telah mendapat informasi berupa keterangan para saksi di lapangan. Menurut dia, para saksi menyampaikan bahwa Pendeta Yeremia diduga ditembak oleh oknum TNI yang tengah menggelar operasi di Distrik Hitadipa.

    Menurut Daniel peristiwa penembakan itu terjadi pada Sabtu pekan lalu, 19 September 2020 sore. Ketika itu Yeremia sedang menuju kandang babi miliknya yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Distrik Hitadipa memang sudah sepi lantaran adanya operasi TNI di sana.

    Menurut Daniel, TNI menggelar operasi karena sehari sebelumnya seorang tentara dilaporkan ditembak dan senjatanya dirampas. Dalam keterangannya, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria menyebut anggota TNI itu ditembak oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).

    GKII mendesak TNI menginvestigasi peristiwa itu secara terbuka dan transparan. Daniel berujar aparat dan pemerintah juga harus memperjuangkan masyarakat Hitadipa yang kini bersembunyi karena ketakutan untuk bisa kembali ke kampung mereka.

    Daniel mengatakan adalah Yeremia tokoh rohani sekaligus tokoh Suku Moni yang sangat dihormati dan dicintai. Menurut Daniel, peristiwa meninggalnya Yeremia ini menimbulkan luka mendalam bagi masyarakat Papua. "Itu menimbulkan susah kepada kami pimpinan sinode untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada aparat dan pemerintah. Ini akan semakin dalam lukanya," kata dia.

    Daniel pun meminta agar kejadian semacam ini tak terulang. Dia berharap agar tak ada lagi warga sipil yang menjadi korban, terlebih para tokoh rohani yang sangat dihormati dan dicintai. Menurut ia, TNI harus dapat membedakan mana warga sipil dan mana kelompok bersenjata. "Kami berharap ini jangan diulang lagi, kami berharap TNI mengetahui mana rakyat sipil mana KKB, jadi mereka harus tahu hal-hal seperti itu," kata dia.

    Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kapen Kogabwihan) III Kolonel Czi IGN Suriastawa sebelumnya menyebut Pendeta Yeremia meninggal ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. Suriastawa menuding KKB menyebar fitnah bahwa TNI yang melakukan penembakan. "Mereka sedang mencari momen menarik perhatian di Sidang Umum PBB akhir bulan ini," kata Suriastawa dalam keterangan tertulis, Ahad, 20 September 2020.

    Adapun Kepala Penerangan Pangdam Cenderawasih XVII Letnan Kolonel Reza Patria mengaku belum mendapat informasi detail terkait peristiwa tersebut. Reza mengakui ada dua versi informasi yang beredar ihwal pelaku penembakan. "Kami masih melakukan pendalaman," kata Reza kepada Tempo, Senin, 21 September 2020.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Traveling Virtual di Masa Pandemi Covid-19

    Dorongan untuk tetap berjalan-jalan dan bertamasya selama pandemi Covid-19 masih tinggi.