Jokowi: Kebebasan Berpendapat di Indonesia Sering Dibajak

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara YIA di Kulon Progo Yogyakarta, Jumat 28 Agustus 2020. Dokumentasi Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara YIA di Kulon Progo Yogyakarta, Jumat 28 Agustus 2020. Dokumentasi Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyinggung permasalahan kebebasan berpendapat di Indonesia, saat hadir secara virtual di acara Peresmian Pembukaan Konferensi Besar XXIII Gerakan Pemuda Ansor Tahun 2020, Jumat, 18 September 2020. Jokowi mengatakan kebebasan berpendapat di Indonesia kerap disalahgunakan.

    Sebagai negara demokrasi, Jokowi mengatakan Indonesia telah memberikan ruang kebebasan berpendapat. Apalagi masyarakatnya sangat majemuk.

    "Ruang kebebasan itu justru sering dibajak untuk mengklaim dirinya paling benar dan yang lain dipersalahkan, lalu merasa berhak memaksakan kehendak karena merasa paling benar," kata Jokowi dalam sambutannya.

    Karena itu ia berharap kader GP Ansor dapat meneladani sikap terpuji yang diambil para ulama, untuk selalu tawassuth (sikap tengah-tengah), tawazun (seimbang), i'tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran) tanpa menghilangkan semangat amar ma'ruf nahi mungkar.

    Jokowi mengatakan warisan semangat para ulama inilah yang membuat GP Ansor selalu dibutuhkan kehadirannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini, kata dia, telah dibuktikan oleh GP Ansor dalam kiprahnya selama lebih dari setengah abad untuk terus berdiri, kokoh memainkan peran sebagai simpul kebangsaan.

    "Ini yang saya sejak lama sangat mengapresiasi dan menghargai kiprah GP Ansor," kata Jokowi..


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.