Dokter Spesialis Paru Minta Pasien Covid-19 Mewaspadai Gejala Happy Hypoxia

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan dr. Erlina Burhan pada konferensi pers bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Senin, 30 Maret 2020. Kredit: ANTARA/HO-BNPB

    Spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan dr. Erlina Burhan pada konferensi pers bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Senin, 30 Maret 2020. Kredit: ANTARA/HO-BNPB

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter spesialis paru di RSUP Persahabatan, Erlina Burhan, meminta pasien Covid-19 mewaspadai gejala happy hypoxia, yaitu penurunan kadar oksigen dalam darah tanpa mengalami sesak.

    “Kalau sudah terjadi hypoxia dalam waktu yang cukup lama, pasien akan mengalami kesadaran menurun. Dan biasanya akan fatal akibatnya,” kata Erlina dalam diskusi di akun Youtube BNPB, Rabu, 16 September 2020.

    Erlina menjelaskan, hypoxia merupakan kurangnya oksigen dalam darah. Normalnya, orang akan mengalami sesak napas ketika kekurangan oksigen. Namun, rasa sesak itu tidak dialami pada beberapa pasien Covid-19 lantaran sudah terjadi kerusakan syaraf yang mengantarkan sensor ke otak. “Sehingga otak tidak bisa mengenali kejadian kekurangan oksigen di darah,” ujarnya.

    Gejala happy hypoxia, kata Erlina, akan muncul jika pasien Covid-19 memiliki gejala berupa batuk terus menerus, demam, dan keluhan lemas. Jika warna bibir atau ujung jari sudah berwarna biru, hal itu menandakan saturasi oksigen sudah menurun.

    “Segera larikan ke rumah sakit. Jangan tunggu biru kalau batuk bertambah, lemas, segera cek dengan pulse oksimetri. Kalau tidak punya, langsung ke rumah sakit,” kata dia.

    Erlina menuturkan, satu-satunya obat untuk mengobati gejala happy hypoxia hanya dengan oksigen. Bgeitu kadar darah sangat rendah di kisaran 60-70 persen, pasien Covid-19 akan diintubasi dan masuk ventilator.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.