Soal Pasukan Rajawali, BIN: Tak Ada Pasukan Khusus, Itu Kode Sandi Pendidikan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelejen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto usai diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, 3 Juni 2017. Tempo/Yohanes Paskalis

    Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelejen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto usai diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, 3 Juni 2017. Tempo/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Intelijen Negara atau BIN membantah keberadaan Pasukan Rajawali, yang disebut-sebut sebagai pasukan khusus yang mereka miliki. Pasukan BIN yang beraksi dalam Inagurasi Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dan Peresmian Patung Bung Karno Inisiator STIN, adalah atraksi dari Dikintelsus (Pendidikan Intelijen Khusus) dengan kode sandi Pasukan Khusus Rajawali.

    "Tidak ada Pasukan di BIN. Penamaan Pasukan Khusus Rajawali adalah kode sandi pendidikan yang selalu berubah kodenya di setiap jenis pendidikan," ujar Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto, dalam keterangan tertulis, Selasa, 15 September 2020.

    Ia mengatakan inagurasi itu bersamaan dengan Dies Natalis STIN 2020. Dikintelsus itu, kata Wawan, diberikan agar memahami tentang tugas dan dinamika di lapangan, antara lain Intelijen Tempur, Taktik dan Teknik Intelijen di medan hutan/perkotaan, serta peningkatan kapabilitas SDM.

    "Pelatihan ini dilaksanakan antara lain berdasarkan evaluasi terhadap hasil Operasi Satgas di wilayah Konflik, dimana Personil BIN di Papua ada yang telah Gugur dan terluka," kata Wawan.

    Wawan membantah ini serupa dengan gerakan paramiliter Schutz Staffel (SS) pada Partai Nazi di Jerman pada era Perang Dunia kedua silam. Ia menyebut perumpamaan itu terlalu jauh.

    Penutupan Dikintelsus selalu diwarnai dengan atraksi ketrampilan baik bela diri, IT, bahan peledak atau ketrampilan senjata serta simulasi penumpasan ATHG lainnya. Ia menegaskan pendidikan ini ditujukan untuk mengasah kemampuan dalam mengatasi tugas khusus yang berat dan medan sulit.

    "Setelah selesai pendidikan mereka diterjunkan untuk tugas klandestin di berbagai sasaran yang menjadi titik ATHG. Mereka terjun seorang diri ataupun bekerja dengan tim kecil (Satgas)," kata dia.

    Dikintelsus ini, kata Wawan, bukan dibentuk menjadi sebuah pasukan khusus, tetapi akan terjun secara personal/mandiri di wilayah tugas. Karena itu, meskipun latihannya adalah latihan para komando, Wawan menegaskan mereka bukan pasukan tempur.

    Ia mengatakan Diklat seperti ini biasa dilakukan di BIN. Setelah selesai pendidikan, mereka kembali ke unit tugas masing- masing sesuai tupoksinya. Atraksi penutupan pendidikan adalah simulasi hasil pendidikan yang mencerminkan ketangguhan skill, spirit dan stamina.

    "Saya juga mantan rektor STIN yang sekarang disebut gubernur, sehingga paham akan sistem pendidikan yang diterapkan di BIN," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Febri Diansyah dan Jumlah Mereka yang Pamit dari KPK 5 Tahun Terakhir

    Mantan Kepala Biro Humas KPK, Febri Diansyah, menyatakan telah mengajukan surat pengunduran diri. Selama 5 tahun terakhir, berapa pegawai yang pamit?