Satgas Covid-19 Catat 31 Ribu Orang Telah Mendaftar Jadi Relawan

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Relawan mengenakan baju hazmat saat mengikuti upacara peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia di Kantor BPBD DIY, Umbulharjo, DI Yogyakarta, Senin, 17 Agustus 2020. Upacara yang diikuti sejumlah relawan Tim Kubur Cepat Posko Dukungan Operasional Satgas Penanganan COVID-19 DIY dengan memakai baju hazmat tersebut mengajak masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan selama pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

    Relawan mengenakan baju hazmat saat mengikuti upacara peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia di Kantor BPBD DIY, Umbulharjo, DI Yogyakarta, Senin, 17 Agustus 2020. Upacara yang diikuti sejumlah relawan Tim Kubur Cepat Posko Dukungan Operasional Satgas Penanganan COVID-19 DIY dengan memakai baju hazmat tersebut mengajak masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan selama pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

    TEMPO.CO, JakartaSatuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat ada sebanyak 31.475 orang telah mendaftarkan dirinya untuk menjadi relawan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.523 orang sudah terlatih untuk selanjutnya ditempatkan dalam penugasan masing-masing.

    Wakil Koordinator Program Bidang Relawan Satgas Penanganan Covid-19 Prasetyo Nurhardjanto mengatakan setiap relawan yang mendaftar akan dibekali dengan empat materi dasar sebelum siap diterjunkan.

    "Materi tersebut tentang relawan dan dasar-dasar kerelawanan, tentang COVID-19 dan protokol kesehatan, materi update situasi terakhir, dan tentang menjaga motivasi," kata Prasetyo, Jumat, 11 September 2020.

    Namun, menurut Prasetyo, tim koordinator belum bisa menerima dan melatih seluruh relawan yang mendaftar karena terkendala keterbatasan yang ada. "Kami harus mengelola sekitar 31 ribu relawan dalam keterbatasan, prioritas kami untuk daerah dengan status PSBB terlebih dulu. Prosesnya tidak mudah sehingga banyak relawan yang menunggu," kata dia.

    Dari seluruh relawan yang mendaftar tersebut terbagi menjadi 6.721 relawan medis dan 24.754 orang mendaftar sebagai relawan nonmedis.

    Prasetyo mengatakan relawan medis yang merupakan tenaga medis seperti dokter, perawat dan lainnya ditempatkan di rumah sakit khusus Covid-19 seperti di RS Darurat Wisma Atlet dan RS Darurat Pulau Galang atau rumah sakit-rumah sakit rujukan yang kekurangan sumber daya kesehatan.

    Sementara relawan nonmedis dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat seperti pendampingan di rumah-rumah ibadah, pendampingan di pesantren, pendampingan program nasi murah, pendampingan di panti jompo, kawal protokol kesehatan dan lain-lain.

    Salah satu relawan Pendampingan Dapur Nasi Murah Yuly Khusniah mengatakan dirinya baru bisa bergabung menjadi relawan setelah menunggu tiga bulan sejak pertama kali mendaftar. Ia mendapatkan tugas menjadi pendamping dalam program nasi murah yang dibuat oleh Satgas Penanganan Covid-19.

    Program nasi murah tersebut bertujuan mengorganisasi kelompok masyarakat yang terdampak Covid-19 untuk bisa berjualan nasi murah kepada orang lain yang membutuhkan. Kelompok masyarakat yang mengalami PHK, tidak mendapatkan pekerjaan diberikan modal untuk bisa berjualan nasi murah yang dijual tidak lebih dari Rp5 ribu.

    Tugas Yuly adalah membantu mendampingi kelompok masyarakat tersebut agar bisa menjalani program nasi murah dengan anggaran yang telah disediakan oleh tim koordinator relawan Satgas Penanganan Covid-19. "Suka dukanya, senang melihat masyarakat merasa terbantu, jujur teman saya juga banyak yang di-PHK, gaji berkurang, atau dirumahkan," ujarnya.

    Adapun kesulitannya, kata Yuly, adalah mengakomodir beberapa kelompok masyarakat yang ingin bergabung. Setelah ditugaskan bentuk kelompok masyarakat, ternyata antusias masyarakat itu besar. "Saya dan teman-teman relawan agak kerepotan membagi mana kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan, tapi alhamdulillah sampai detik ini masih lancar," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.