Selasa, 22 September 2020

KPK Prihatin Putusan PK MA yang Kurangi Hukuman Mantan Wali Kota Cilegon

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Juru Bicara KPK Ali Fikri. ANTARA

    Juru Bicara KPK Ali Fikri. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merasa prihatin atas putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) yang mengurangi hukuman mantan Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi. Iman Ariyadi yang terjerat perkara suap pengurusan perizinan pembangunan Mall Transmart di Cilegon telah dijatuhi hukuman selama 6 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Serang, namun melalui putusan PK dikurangi menjadi hanya 4 tahun penjara.

    "KPK prihatin karena kecenderungan pengurangan hukuman setiap pemohon PK oleh MA tentu menjadi angin segar bagi para koruptor," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Kamis 10 September 2020.

    Di sisi lain, lanjut Ali, putusan tersebut juga tidak mendukung upaya pemerintah dalam perang melawan korupsi. KPK juga mencatat lebih dari 15 perkara yang ditangani KPK mendapat pengurangan hukuman pada tingkat PK selama 2019 sampai saat ini.

    Namun sebagai bagian dari penegak hukum, kata dia, KPK menghormati putusan PK Iman Ariyadi dan mengharapkan MA agar dapat segera mengirimkan salinan putusan tersebut agar dapat dipelajari lebih lanjut.

    "Saat ini, beberapa perkara PK yang telah diputus Majelis Hakim, KPK belum mendapatkan salinannya sehingga tidak tahu pertimbangan apa yang menjadi dasar pengurangan hukuman tersebut," ujar Ali.

    Sebelumnya, putusan PK Mahkamah Agung juga mengurangi hukuman mantan Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip menjadi hanya 2 tahun penjara, di mana sebelumnya pada tingkat pertama dijatuhi hukuman selama 4 tahun 6 bulan penjara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.