Minggu, 20 September 2020

Ma'ruf Amin Sebut Pancasila dan Agama Bisa Tangkal Radikalisme

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Maruf Amin ditemani sejumlah menteri dan kepala daerah menjawab pertanyaan wartawan di Pendopo Bupati Lebak, Banten, Kamis 30 Januari 2020. Maruf Amin menyebutkan pemulihan pascabencana longsor dan banjir bandang sudah dalam proses pelaksanaan seperti pembangunan 12 jembatan yang rusak, gedung sekolah, relokasi tempat korban bencana, dan kompensasi berupa uang tunai bagi korban yang ingin membangun kembali rumahnya. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

    Wakil Presiden Maruf Amin ditemani sejumlah menteri dan kepala daerah menjawab pertanyaan wartawan di Pendopo Bupati Lebak, Banten, Kamis 30 Januari 2020. Maruf Amin menyebutkan pemulihan pascabencana longsor dan banjir bandang sudah dalam proses pelaksanaan seperti pembangunan 12 jembatan yang rusak, gedung sekolah, relokasi tempat korban bencana, dan kompensasi berupa uang tunai bagi korban yang ingin membangun kembali rumahnya. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan agama. Menurutnya kedua hal ini penting dipahami berdampingan agar tidak lagi muncul intoleransi, dan radikalisme.

    "Keduanya tidak bisa dipisahkan (Pancasila dan agama). Karena sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa," kata Ma'ruf dalam sambutannya di acara Simposium Nasional Studi dan Relasi Lintas Agama Berparadigma (SIGMA) Pancasila, yang ditayangkan secara daring, Kamis, 10 September 2020.

    Menurutnya, membuat Pancasila sebagai referensi ilmu pengetahuan diperlukan untuk membangun sebuah model pengembangan studi dan relasi lintas agama yang berparadigma Pancasila. Ma'ruf Amin menilai simposium studi ini merupakan sebuah upaya untuk menjawab tantangan fenomena radikalisme agama, intoleransi, dan ideologi transnasional yang kini terjadi di masyarakat.

    Pancasila yang kokoh dalam keilmuan, kata Ma'ruf, memperkuat dan mengembangkan agama dengan paradigma Pancasila. Hal ini menurutnya bisa menangkal paham radikalisme sedini mungkin. Karena Pancasila, ia nilai, merupakan titik temu bagi agama, suku, ras, dan golongan yang beragam di Indonesia. "Pancasila merupakan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk," tuturnya.

    Mantan Rais Aam Nahdlatul Ulama ini mengatakan Pancasila tidak bisa diganti dengan ideologi lain, begitu pula dengan NKRI. Karena upaya mengganti keduanya berarti menyalahi kesepakatan nasional.

    Upaya mengubah menurutnya sudah ada sejak lama, bahkan masih berlangsung hingga saat ini. Orang-orang yang berupaya mengubah ini menurut Ma'ruf memiliki pandangan yang keliru. Baik keliru dalam memandang agama, atau Pancasila.

    "Upaya tersebut tidak akan berhasil. Karena Pancasila tidak bertentangan dengan agama, nilai-nilai yang didalamnya turunan ajaran agama," ujar Wakil Presiden RI.

    FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Manfaat Telur Ayam Kampung

    Sejumlah manfaat terlur ayam kampung dapat diperoleh oleh mereka yang mengkonsumsinya. Salah satunya, secara tak langsung menurunkan berat badan.