Bawaslu Sebut Mayoritas Calon Tunggal Pilkada 2020 Inkumben

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hanindhito Himawan Pramana dan Dewi Maria Ulfa mendaftarkan diri sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Kediri periode 2020-2025 di Gedung Bagawanta kompleks Sekretariat KPUD Kab. Kediri, Jumat 4 September 2020. Foto: Istimewa

    Hanindhito Himawan Pramana dan Dewi Maria Ulfa mendaftarkan diri sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Kediri periode 2020-2025 di Gedung Bagawanta kompleks Sekretariat KPUD Kab. Kediri, Jumat 4 September 2020. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Ratna Dewi Pettalolo mengatakan karakteristik pasangan calon tunggal di Pilkada 2020 adalah inkumben. Hingga saat ini, Pilkada 2020 berpotensi diikuti oleh 28 pasangan calon tunggal.

    Menurut Dewi, inkumben banyak menjadi calon tunggal lantaran mereka memiliki akses terhadap sumber daya, baik sumber daya uang atau kekuasaan sehingga bisa menggalang dukungan dari banyak partai politik.

    "Sehingga menutup ruang-ruang dari pasangan calon lain untuk bisa mendapat akses yang sama. Inilah fakta yang kita temukan di dalam pelaksanaan pemilihan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya," kata Dewi dalam webinar "Oligarki Parpol dan Fenomena Calon Tunggal", Rabu, 9 September 2020.

    Dewi mengatakan terjadi peningkatan jumlah calon tunggal dari Pilkada 2015, Pilkada 2017, Pilkada 2018, hingga tahun ini. Secara berturut-turut, jumlah pasangan calon tunggal di tiap pilkada tersebut ialah tiga pasangan calon, sembilan pasangan calon, 16 pasangan calon, hingga berpotensi menjadi 28 pasangan calon.

    Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandez menyampaikan hal senada. Arya mengatakan, dari 28 daerah yang berpotensi calon tunggal, 23 di antaranya diisi oleh calon inkumben, baik kepala daerah maupun wakil kepala daerah.

    Dari 23 tersebut, lanjut Arya, sepuluh di antaranya diikuti sepuluh pasangan calon petahana yang kembali berpasangan. "Ada faktor petahana yang mendorong partai-partai mencalonkan, mungkin karena faktor elektabilitas yang kuat, finansial, dan lainnya," kata Arya dalam forum yang sama.

    Arya mengatakan mahalnya biaya politik juga turut menjadi faktor menguatnya calon tunggal di Pilkada 2020. Ia berujar, kondisi pandemi Covid-19 akan membuat biaya kampanye, saksi, sengketa, dan sebagainya menjadi lebih mahal.

    Selain itu, Arya memprediksi pemodal politik juga akan sangat berhitung untuk berinvestasi membiayai kandidat. Sebab, situasi bisnis pun sedang serba tak pasti karena pelemahan ekonomi imbas pandemi Covid-19.

    "Ini akan membuat kandidat yang berpeluang mendapatkan dukungan adalah petahana dan pengusaha karena dia punya modal politik dan ekonomi, mereka punya saving hari ini, mereka yang punya cash banyak," kata Arya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebiasaan Anak Berbohong Dapat Merugikan Mereka Saat Dewasa

    Anak bisa melakukan kebohongan dengan atau tanpa alasan. Berbohong menurut si anak dapat menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang diterimanya.