Selasa, 22 September 2020

Komisi 8 DPR Minta Fachrul Razi Jelaskan Kaitan Good Looking dan Radikalisme

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Agama Fachrul Razi saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2020. Dalam rapat kerja tersebut, Menteri Agama Fachrul Razi meminta maaf kepada DPR karena mengambil keputusan sepihak terkait pembatalan haji tahun 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Agama Fachrul Razi saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2020. Dalam rapat kerja tersebut, Menteri Agama Fachrul Razi meminta maaf kepada DPR karena mengambil keputusan sepihak terkait pembatalan haji tahun 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Yandri Susanto mendesak Menteri Agama Fachrul Razi menjelaskan sejumlah ucapannya yang kontroversial di publik. Ucapan kontroversial itu di antaranya tentang radikalisme yang menyusup melalui orang yang berpenampilan menarik atau good looking, hafal Alquran, dan pandai berbahasa Arab, serta pernyataan tentang sertifikasi dai.

    Yandri mengatakan, ucapan tentang good looking dan radikalisme itu membuat banyak ulama dan pengurus pondok pesantren tersinggung. Yandri mengatakan anggota keluarganya juga banyak yang mengelola pondok pesantren.

    "Saya kira ini kegelisahan sekali bagi umat Islam, (Menag) menarasikan orang hafal Alquran, good looking, pandai bahasa Arab itu sumber radikalisme," kata Yandri, Selasa, 8 September 2020.

    Yandri pun mendesak Fachrul Razi membeberkan data ihwal tempat-tempat yang disusupi radikalisme melalui orang good looking itu. Ia mengatakan radikalisme yang negatif memang harus dibasmi.

    Namun, ia mengaku tersinggung jika radikalisme diindikasikan dengan penampilan good looking, pandai bahasa Arab, dan hafal Alquran. Politikus Partai Amanat Nasional ini pun mengaku mendidik anak-anaknya untuk pandai berbahasa Arab dan hafal Alquran.

    "Tapi kalau hari ini pemerintah menuduh itu sumber utama radikal, saya kira tidak bisa diterima," kata Yandri.

    Berikutnya, Yandri minta Menag menjelaskan tentang rencana sertifikasi penceramah atau dai. Ia mengkritik Menag yang menyampaikan hal tersebut kepada publik padahal belum menjadi disepakati bersama DPR.

    Menurut Yandri, gelar dai diberikan oleh masyarakat. Ia menganggap pemerintah tak berhak memberikan sertifikat kepada para penceramah. "Jangan sampai justru Menag yang katanya beragama Islam, sepertinya benci dengan Islam," kata Yandri.

    Dalam rapat kerja hari ini, Yandri mengatakan enggan membahas rencana program dan anggaran Kementerian Agama 2021 jika ucapan kontroversial itu tak diluruskan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.