Isak Tangis Warnai Peluncuran Pusara Digital Nakes yang Wafat karena Covid-19

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas pemakaman penanganan jenazah pasien COVID-19 menurunkan peti jenazah ke dalam pusara di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2020. Insentif tersebut di luar dari gaji pokok yang telah diterima rutin. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Petugas pemakaman penanganan jenazah pasien COVID-19 menurunkan peti jenazah ke dalam pusara di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2020. Insentif tersebut di luar dari gaji pokok yang telah diterima rutin. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Isak tangis keluarga dan kerabat dari para tenaga medis yang wafat karena Covid-19 mewarnai acara peluncuran pusara digital yang digagas Platform online lapor Covid-19.

    Inriaty Karawaheny, misalnya. ibunda dari Dokter Berkatnu Indrawan tak kuasa menahan tangis seraya mengucapkan terima kasih atas peluncuran pusara digital bagi para tenaga kesehatan (nakes) gugur dalam melaksanakan tugasnya ini. Indra yang semasa hidup bekerja di RSUD Soewandhi Surabaya, meninggal setelah dirawat selama tiga pekan di rumah sakit tempatnya bekerja. Dokter berusia 28 tahun itu meninggal karena terinfeksi Covid-19.

    "Indra, mama bangga kepadamu. Mama sayang, tapi Tuhan lebih sayang kepadamu. Terima kasih telah kau tunjukkan baktimu sebagai dokter walaupun dalam waktu yang singkat," ujar Inriaty sambil menyeka air matanya dalam acara yang digelar secara virtual, Sabtu, 5 September 2020.

    Catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sudah 100 nakes yang meninggal selama enam bulan pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Sementara menurut data Lapor Covid-19, sudah lebih dari 150 nakes yang wafat karena terinfeksi Covid-19 dalam setengah tahun ini.

    Eva Sri Diana, salah satu dokter spesialis paru-paru di Jakarta menyampaikan duka yang mendalam atas kepulangan teman-teman sejawatnya. Ratusan nakes yang gugur itu, ujar dia, bukan sekadar angka.

    "Setiap satu angka memiliki jiwa, harapan dan cita-cita. Setiap satu angka memiliki keluarga, sanak saudara dan teman-teman yang sangat mencintai mereka," ujar Eva sambil terisak.

    Ratusan nyawa yang melayang ini, ujar Eva, hendaknya menyadarkan masyarakat akan bahaya virus Corona. "Ratusan nyawa nakes yang gugur ini membuktikan bahwa Covid-19 itu ada, bukan hanya cerita, bukan konspirasi kami para dokter. Ini fakta yang harus kita hadapi bersama," kata Eva.

    Eva bercerita, setiap kali mendengar satu per satu rekan sejawatnya gugur, ia pun sebetulnya gentar dan merasa takut. "Kami juga punya keluarga, tapi sebagai dokter, kami teguh memegang sumpah bahwa kami akan melayani pasien sampai titik darah penghabisan," ujarnya.

    Untuk itu, Eva meminta kepada seluruh masyarakat untuk taat menjalankan protokol kesehatan agar mengurangi beban para tenaga medis. Kepada pemerintah, Eva berharap kebutuhan mereka akan alat pelindung diri atau APD dicukupi karena para nakes merupakan garda terdepan melawan Covid-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Jalan Terus, Ada Usulan Perihal Pelaksanaan dalam Wabah Covid-19

    Rapat kerja antara DPR, Pemerintah, KPU, Bawaslu dan DKPP menyepakati bahwa Pilkada 2020 berlangsung 9 Desember 2020 dengan sejumlah usulan tambahan.