Pengamat Ungkap Penyebab PDIP Selalu Kalah Pemilu di Sumatera Barat

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berbincang dengan Ketua DPP PDIP Bidang Pemerintahan dan Pertahanan Keamanan Puan Maharani dalam acara pengumuman calon kepala daerah gelombang I di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu, 19 Februari 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berbincang dengan Ketua DPP PDIP Bidang Pemerintahan dan Pertahanan Keamanan Puan Maharani dalam acara pengumuman calon kepala daerah gelombang I di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu, 19 Februari 2020. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, mengungkapkan sejumlah penyebab PDIP selalu kalah pemilu dan pilpres di Sumatera Barat.

    "Mungkin faktor geanologi politik dan ideologi masih dominan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan," kata Karyono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 5 September 2020.

    Kayono menjelaskan, geanologi politik masyarakat Sumatera Barat saat ini belum lepas dari politik aliran di masa lalu. Partai Masyumi sangat kuat di wilayah ini. Dalam konteks ideologis, kata Karyono, pengaruhnya masih kuat hingga sekarang, meskipun ada pergeseran konstalasi politik pasca Pemilu 1955 dan sejak Masyumi dibubarkan.

    Sebelumnya Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengaku bertanya-tanya mengapa PDIP masih sulit memenangkan Pilkada di Sumbar. Meskipun, kata dia, PDIP sudah mulai memiliki kantor DPC dan DPD di Bumi Minangkabau itu. "Saya pikir kenapa ya, rakyat di Sumbar itu sepertinya belum menyukai PDI Perjuangan," kata Megawati pada Rabu, 2 September 2020.

    Menurut Karyono, salah satu faktor lemahnya dukungan PDI Perjuangan di ranah Minang itu juga karena tidak memiliki tokoh berpengaruh yang dapat menarik pemilih. Padahal, dalam marketing politik dibutuhkan strategi endorsements tokoh yang berpengaruh sebagai pengepul suara atau vote getter.

    Jika ditarik lebih jauh, Karyono mengatakan bahwa faktor sejarah hubungan Presiden RI pertama, Sukarno, dengan sejumlah tokoh Sumbar, terutama dengan tokoh yang saat itu terlibat dalam PRRI/PERMESATA.

    Sosok Sukarno dipandang sebagai pihak yang mengerahkan militer untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat, yang membuat sosok Sukarno kurang diterima di Bumi Minangkabau.

    Namun, sejak reformasi telah terjadi pergeseran kekuatan politik yang menunjukkan masyarakat Sumbar semakin cair. Yaitu peta perolehan suara partai dalam sejumlah pemilu dimenangi partai berhaluan nasionalis yaitu Golkar (2004), Demokrat (2009), Golkar (2014), dan Gerindra (2019).

    "Dalam sejarah pemilu di Sumbar memang tergolong fenomenal, yakni partai yang dekat dengan sosok Sukarno baik PNI, PDI dan PDIP tidak pernah menang," katanya.

    Karyono menuturkan, fenomena tersebut mestinya mendorong PDIP melakukan evaluasi secara menyeluruh, dengan melakukan penelitian yang tersistematis untuk menggali dan mengetahui perilaku warga Sumbar. Sehingga, penelitian dapat menghasilkan rekomendasi untuk menyusun strategi meningkatkan akseptabilitas dan elektabilitas di Sumbar.

    "Untuk meluluhkan hati masyarakat Sumbar memerlukan pendekatan persuasif dan beradaptasi dengan budaya lokal. Tidak cukup dengan cara-cara parsial, seporadis, dan instan," ujar Karyono.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.