Kejati Sumsel Tangkap Suroso Buronan 9 Tahun di Kasus Korupsi Bansos

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana kasus korupsi yang sempat buron sembilan tahun, Suroso, saat berbicara kepada pewarta di Kejati Sumsel, Jumat, 28 Agustus 2020. Foto Antara

    Terpidana kasus korupsi yang sempat buron sembilan tahun, Suroso, saat berbicara kepada pewarta di Kejati Sumsel, Jumat, 28 Agustus 2020. Foto Antara

    TEMPO.CO, Jakarta - Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan berhasil menangkap Suroso. Ia adalah buronan selama sembilan tahun setelah divonis satu tahun penjara dalam kasus korupsi dana bantuan sosial (Bansos) pengadaan konstruksi area kebun seluas 50 hektar di Kabupaten OKU Timur pada 2011.

    Kasi Penkum Kejati Sumsel Khaidirman mengatakan sebelumnya Suroso diamankan Tim Tangkap Buron Kejati Sumsel pada Rabu malam, 26 Agustus 2020 di rumah kontrakannya di Jakarta. "Suroso (terpidana) melarikan diri pada saat akan dilakukan eksekusi atas vonis yang telah dijatuhkan pada 2011," ujar Khaidirman, Jumat, 28 Agustus 2020. 

    Suroso telah divonis oleh majelis hakim PN Baturaja dengan surat putusan Pengadilan Negeri Baturaja Nomor : 548/PID.B/2010 Tanggal 06 Maret 2011. Dalam putusan tersebut ia dijatuhi pidana penjara selama satu tahun dan denda Rp 50 juta subsider satu bulan.

    Suroso dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi menyelewengkan dana APBN Bansos untuk pengadaan dan pembangunan konstruksi serta sapronak perluasan areal kebun seluas 50 Ha di Kabupaten OKU Timur.

    Dari perbuatannya diamankan barang bukti berupa uang pengganti kerugian negara yang dititipkan ke Bank Sumsel Babel sebesar Rp 157 Juta. Suroso masih sempat berada di OKU TImur selama satu tahun pasca putusan, kata Khaidirman, kemudian melarikan diri ke Jakarta.

    Khaidirman menjelaskan bahwa perkara yang menjerat Suroso saat adanya temuan dugaan penyelewangan dana Bansos OKU Timur ketika ia masih memegang kendali Gapoktan. Suroso divonis melanggar Pasal 3 UU No 31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. "Rencananya kami akan mengeksekusi terpidana ke Rutan Martapura guna menjalani masa hukumannya," kata Khaidirman.

    Sementara Suroso mengaku lebih baik kabur karena merasa tidak punya opsi lain dibandingkan harus menjalani masa tahanan. Selain itu, sebagian hasil korupsinya senilai Rp 150 juta sudah dibagikan kepada PPK proyek tersebut. "Selama kabur (buronan) saya kerja serabutan, terakhir kali jadi sopir online," ujarnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa saja Tanda-tanda Perekonomian Indonesia di Ambang Resesi

    Perekonomian Indonesia semakin dekat dengan kondisi resesi teknikal. Kapan suatu negara dianggap masuk ke dalam kondisi resesi?