Minggu, 20 September 2020

Mantan Deputi KSP Sebut Pemerintah Harus Dibantu dan Dikritik

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretariat Presiden memasang kaca pembatas di meja oval tempat Presiden Joko Widodo atau Jokowi melakukan tatap muka dengan para tamunya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Pemasangan pembatas ini sebagai bentuk protokol kesehatan mencegah penyebaran COVID-19. Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Sekretariat Presiden memasang kaca pembatas di meja oval tempat Presiden Joko Widodo atau Jokowi melakukan tatap muka dengan para tamunya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Pemasangan pembatas ini sebagai bentuk protokol kesehatan mencegah penyebaran COVID-19. Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Akademikus Yanuar Nugroho mengatakan serangan siber atau peretasan terhadap media massa dan aktivis tak lepas dari sentimen tribalisme yang terjadi setelah Pemilu. Sentimen ini tidak peduli benar atau salah suatu perbuatan yang penting bagi mereka adalah kelompoknya.

    Yanuar menuturkan polarisasi yang terjadi pascapemilihan umum sangat berbahaya dan menjadi ancaman bagi pembangunan bangsa. "Pemerintah harus dibantu sekuat-kuatnya, tapi juga perlu dikritik seluas-luasnya. Itulah hakikat perbaikan," katanya dalam diskusi Ngobrol @Tempo: Pembungkaman Kritik di Masa Pandemi, Kamis, 27 Agustus 2020.

    Yanuar menjelaskan Pemilu itu adalah soal siapa yang bakal memerintah. Namun usai pemilu harus ada kerja sama di antara kelompok yang berbeda untuk memajukan bangsa. Caranya dengan saling adu program. "Sayangnya kepantasan itu dihancurkan. Sehingga kerja sama setelah pemilu menjadi mustahil," ucap mantan deputi di Kantor Staf Presiden (KSP) itu.

    Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Damar Juniarto mencatat selama Agustus 2020 terjadi 6 peretasan terhadap kelompok berisiko seperti jurnalis, akademikus, dan aktivis. Enam serangan itu terdiri dari satu serangan website deface yang menimpa situs Tempo.co, empat akses ilegal, dan satu pengambilan akun.

    Menurut Damar, kasus peretasan ini diduga kuat terkait dengan aktivitas para korban yang mengkritik kebijakan penanganan Covid-19 dari pemerintah. "Siapa yang ada di balik serangan tentu saja mereka yang berposisi berseberangan. Kami belum tahu siapa, tapi paling tidak mereka sedang bahagia karena seolah tidak ada upaya atau penangkapan terhadap tindakan kriminal itu. Ini yang kami khawatirkan," tuturnya.

    Damar menuturkan serangan siber kepada kelompok berisiko ini diduga ada motif politik. "Kami khawatir karena jumlahnya makin banyak, sudah saatnya kami kirim alarm karena hal ini menjadi seperti new normal atau sebuah keseharian seolah akun yang diambil atau doxing sesuatu yang biasa saja padahal berbahaya," ujar dia.

    Baca juga: Peretasan terhadap Media Online Masif, Pemerintah Diminta Bersikap

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    8 Tips Aman Mempercepat Datang Bulan

    Datang bulan yang terjadi bagi sebagian wanita dapat mengganggu aktivitas mereka. Tak sedikit yang menempuh sejumlah cara untuk mempercepat haid.