Minggu, 20 September 2020

Sekolah Tatap Muka Saat Covid-19, KPAI: Kalau Belum Siap Tunda Dulu

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang guru menerima salam dari siswa saat simulasi kegiatan belajar tatap muka di SMPN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat 7 Agustus 2020. Simulasi yang dilakukan guru dan pegawai sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan tersebut merupakan salah satu persiapan untuk mengadakan kegiatan belajar tatap muka  yang sehat serta bebas COVID-19. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

    Seorang guru menerima salam dari siswa saat simulasi kegiatan belajar tatap muka di SMPN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat 7 Agustus 2020. Simulasi yang dilakukan guru dan pegawai sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan tersebut merupakan salah satu persiapan untuk mengadakan kegiatan belajar tatap muka yang sehat serta bebas COVID-19. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meragukan persiapan pembukaan sekolah atau sekolah tatap muka bisa berjalan dengan sungguh-sungguh. "Kalau belum siap, tunda dulu buka sekolah," kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti, dalam webinar, Kamis, 27 Agustus 2020.

    Retno mengatakan sekolah tatap muka saat pandemi Covid-19 harus memenuhi 5 siap. Lima siap itu ialah siap pemerintah daerahnya, siap satuan pendidikannya, siap gurunya, siap orang tuanya, dan siap anaknya.

    Berdasarkan hasil survei yang dilakukan KPAI sebanyak 56,2 persen responden menyatakan sarana dan prasarana, seperti wastafel, bilik disinfektan, dan thermo gun yang tersedia di sekolah sudah memadai. Adapun 43,8 persen menyatakan belum memadai.

    Sebelum pandemi Covid-19, hampir semua sekolah sudah memiliki wastafel namun jumlahnya sedikit dan belum menyebar. Wastafel juga hanya terkonsentrasi di toilet. "Padahal wastafel diperlukan dengan adaptasi kebiasaan baru di sekolah," ujar Retno.

    Data menunjukkan 46 persen sekolah memiliki wastafel kurang dari lima unit, 32 persen sekolah memiliki 5-10 wastafel, 10 persen memiliki 10-15 wastafel. Lalu 6 persen memiliki 15-20 wastafel dan 6 persen memiliki lebih dari 20 wastafel.

    Sebelum Covid-19 ada sebanyak 67 persen sekolah sudah menyediakan sabun di toilet sekolah. Kemudian 28 persen sekolah kadang-kadang menyediakan dan 5 persen tidak pernah menyediakan.

    Retno mengatakan ketersediaan tisu di toilet sekolah sebelum pandemi hanya dilakukan 27 persen. Sedangkan 41 persen sekolah menyatakan kadang-kadang menyediakan tisu di toilet dan 32 persen menyatakan tidak pernah menyediakan. "Padahal kalau cuci tangan sudah benar, tapi tidak ada sarana mengeringkan, anak kemungkinan mengelap tangan di benda yang kurang steril," kata dia.

    Lebih lanjut, sebelum pandemi Covid-19 hanya 23 persen sekolah yang selalu menyediakan disinfektan. Sedangkan 31 persen sekolah kadang-kadang menyediakan disinfektan dan 46 persen sekolah tiak pernah menyediakan dan menggunakan disinfektan.

    Hasil survei, kata Retno, juga menunjukkan sebanyak 93 persen pihak sekolah akan melakukan sosialisasi protokol kesehatan kepada para guru, sedangkan 7 persen menjawab tidak tahu. Untuk sosialisasi protokol kesehatan terhadap siswa, sebanyak 91 persen sekolah akan melakukannya dan 9 persen menjawab tidak tahu.

    Survei yang dilakukan KPAI pada pekan keempat Juni 2020 ini menggunakan aplikasi Google form. Jumlah partisipan sebanyak 6.729 sekolah, dengan satu sekolah diwakili oleh satu responden. Wilayah survei mencakup wilayah 78 persen Pulau Jawa dan 22 persen luar Pulau Jawa.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    8 Tips Aman Mempercepat Datang Bulan

    Datang bulan yang terjadi bagi sebagian wanita dapat mengganggu aktivitas mereka. Tak sedikit yang menempuh sejumlah cara untuk mempercepat haid.