Pilkada 2020, Politikus PDIP Dukung KPU Soal Tes Swab Bagi Kandidat

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua Steering Comitee Kongres V PDIP Djarot Saiful Hidayat dalam konferensi pers menjelang Kongres PDIP di Grand Inna Beach, Bali pada Rabu, 7 Agustus 2019. Dewi Nuria/TEMPO

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua Steering Comitee Kongres V PDIP Djarot Saiful Hidayat dalam konferensi pers menjelang Kongres PDIP di Grand Inna Beach, Bali pada Rabu, 7 Agustus 2019. Dewi Nuria/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, sepakat dengan revisi Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 6/2020 tentang Penyelenggaraan Pilkada 2020 dalam kondisi bencana non alam Covid-19. Melalui revisi itu, KPU mewajibkan bakal pasangan calon kepala daerah menjalani pemeriksaan tes swab atau real time polymerase chain reaction (RT-PCR) Covid-19.

    "Kami sangat mendukung, sangat setuju usulan dari KPU. Seluruh kandidat itu, bukan hanya di rapid, tapi swab test," kata Djarot, Rabu, 26 Agustus 2020.

    Menurut anggota Komisi II DPR itu, PDI Perjuangan juga melakukan hal yang sama di kantornya. "Bahkan secara berkala, PDI Perjuangan di kantor juga melakukan swab test dan rapid test," kata mantan gubernur DKI Jakarta itu.

    Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan sudah mengusulkan kepada pemerintah dan DPR soal kewajiban calon kepala daerah melaksanakan uji usap atau tes swabMenurut dia, usulan itu berdasarkan masukan anggota KPU provinsi, kabupaten, dan kota.

    Setelah menampung masukan tersebut, KPU berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia. Ia mengatakan usulan tersebut bertujuan untuk memastikan bakal pasangan calon kepala daerah di Pilkada 2020 bebas dari Covid-19.

    Baca juga: Keluarga Bupati Kediri Nyatakan Dukung Anak Pramono Anung di Pilkada 2020


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebiasaan Anak Berbohong Dapat Merugikan Mereka Saat Dewasa

    Anak bisa melakukan kebohongan dengan atau tanpa alasan. Berbohong menurut si anak dapat menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang diterimanya.