Selasa, 22 September 2020

Tiga Pegawai Reaktif, Sekjen PBNU Bantah Kantornya di Lockdown

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini (tengah) saat rapat pleno dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, 27 Februari 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini (tengah) saat rapat pleno dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, 27 Februari 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga orang pegawai yang bekerja di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta dinyatakan reaktif usai menjalani rapid test virus corona (Covid-19). Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini membantah bahwa gedung PBNU di lockdown karena hal tersebut.

    "Enggak di lockdown. Kami masih menunggu hasil PCR," kata Helmy saat dihubungi Tempo, Rabu, 26 Agustus 2020.

    Sebelumnya, beredar kabar bahwa kantor PBNU ditutup lantaran ada tiga pegawai yang reaktif tersebut. Helmy menjelaskan bahwa PBNU selama ini memang menerapkan sistem buka-tutup karena kasus positif Covid-19 di Jakarta terus meningkat.

    "Seminggu bisa buka cuma dua hari saja, kalau ada rapat-rapat terbatas saja," ujar Helmy.

    Selama pandemi, kata Helmy, kantor hanya diisi oleh 10 persen pegawai. Mayoritas bekerja dari rumah guna menghindari penularan virus corona dan mematuhi aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.