KPK Evaluasi Kerja Satgas Pemburu Harun Masiku

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango mengikuti upacara pelantikan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat 20 Desember 2019. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay/wsj

    Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango mengikuti upacara pelantikan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat 20 Desember 2019. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay/wsj

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi tengah mengevaluasi satuan tugas yang menangani perburuan terhadap buronan Harun Masiku. KPK mengkaji kemungkinan untuk menambah personel satgas untuk memburu mantan calon legislatif PDIP tersebut.

    "Di internal kami coba mengevaluasi kerja dari satgas yang ada, kemungkinan untuk menambah personel satgas atau pun menyertakan satgas pendamping," kata Nawawi lewat keterangan tertulis, Senin, 24 Agustus 2020.

    Harun Masiku menjadi buronan sejak gagal ditangkap dalam operasi senyap KPK pada awal Januari 2020. Tim KPK yang memburu Harun hingga kawasan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian justru diduga ditahan oleh anggota Polri.

    Tak lama setelah OTT, dua personel KPK yang terlibat dalam operasi itu, jaksa Yadyn Palebangan dan penyidik asal Polri Komisaris Rossa Purbo Bekti dipulangkan ke insitusi asal sebelum masa tugas habis. Rossa akhirnya bisa kembali kerja di KPK setelah memprotes pemulangannya.

    Seorang sumber mengatakan, belakangan, penyidik KPK yang mengawal kasus Harun sejak awal malah dipindahtugaskan ke kasus lain. Padahal, biasanya, penyidik KPK yang terlibat dalam operasi senyap selalu mengawal kasus hingga naik tahap penuntutan. Pejabat struktural KPK mengganti penyidik itu dengan penyidik asal kepolisian saat operasi tangkap tangan berlangsung.

    Pelaksana tugas juru bicara KPK, Ali Fikri, justru mengatakan tugas tim awal telah berakhir dan memang harus diganti. “Memang sudah selesai tugasnya,” katanya. 

    Adapun pihak yang turut dijadikan tersangka dalam kasus yang menyeret Harun telah divonis. Eks Komisioner KPU Wahyu Setyawan dan orang kepercayaannya Agustiani Tio Fridelina yang didakwa menerima suap dari Harun hari ini divonis 6 tahun penjara. Saeful Bahri, kader PDIP yang didakwa memberikan suap bersama Harun divonis 1 tahun 8 bulan. Harun menjadi satu-satunya tersangka yang belum diadili.

    Nawawi mengatakan KPK akan terus mencari keberadaan Harun. KPK, kata dia, akan terus berkoordinasi dengan Polri untuk mencari Harun.

    ROSSENO AJI | SYAILENDRA PERSADA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hati-hati, Ada 5 Tempat Rawan Penularan Virus Corona di Kantor

    Penelitian mengumpulkan daftar lima titik risiko penyebaran Covid-19 di kantor. Sejumlah titik penularan virus corona sering kita abaikan.