Ikut Sekolah Partai, Gibran: Pak Ganjar, Bu Mega, Bu Risma Tokoh Favorit Saya

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon wali kota Solo, Gibran Rakabuming Raka berinteraksi dengan warga saat mengunjungi Kampung Citropuran, Tipes, Surakarta, Jawa Tengah, Selasa, 18 Agustus 2020. Foto: Bram Selo Agung Mardika

    Bakal calon wali kota Solo, Gibran Rakabuming Raka berinteraksi dengan warga saat mengunjungi Kampung Citropuran, Tipes, Surakarta, Jawa Tengah, Selasa, 18 Agustus 2020. Foto: Bram Selo Agung Mardika

    TEMPO.CO, Jakarta - Bakal calon Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, mengatakan kagum dengan para seniornya di PDIP.

    "Hampir semua narasumber yang ada di sekolah partai ini tokoh favorit saya. Ada Pak Ganjar, ada Pak Hendy, ada Ibu Risma, Pak Pramono Anung, ada Pak Hasto, Ibu Mega. Semua idola saya," kata Gibran menjawab pertanyaan Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto dalam pembukaan Sekolah Partai, Jumat 21 Agustus 2020.

    Mendengar jawaban tersebut, Hasto lalu mengucapkan terima kasih. Hasto pun mengingatkan putra sulung Presiden Joko Widodo atau Jokowi ini bahwa di sekolah partai, setiap calon kepala daerah yang menjadi peserta harus berdisiplin.

    "Yang penting Mas Gibran sudah siap ya. Sekolah kita ini tegas sekali ini," kata Hasto.

    "Siap pak," jawab Gibran.

    Sekolah Partai ini diikuti oleh 129 peserta, dan akan diadakan selama lima hari, dengan lima materi pokok yang akan disampaikan selama acara berlangsung. Hari ini Sekolah partai sudah resmi dibuka oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

    Sekolah Partai kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Karena saat ini Indonesia sedang dilanda Covid-19, sehingga acara digelar secara daring. Biasanya, PDIP menyelenggarakan Sekolah Partai di Wisma Kinasih, Depok. Sekolah partai ini merupakan pembekalan para calon kepala daerah dari PDIP untuk Pilkada 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.