Survei: 64,4 Persen Elite Anggap Penyebaran Covid-19 di Indonesia Tak Terkendali

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara motor melintas di depan mural

    Pengendara motor melintas di depan mural "Stop Corona" di Kampung Jogoloyo, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 27 Juli 2020. Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19 per 27 Juli 2020, kasus positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 100.303 kasus, dimana 58.173 orang dinyatakan sembuh dan 4.838 orang meninggal dunia. ANTARA FOTO/Moch Asim

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Indikator Politik Indonesia merilis survei pemuka opini terkait efek kepemimpinan dan kelembagaan dalam penanganan Covid-19. Hasilnya mayoritas elite menilai situasi penyebaran Covid-19 di Indonesia tidak terkendali.

    Sebanyak 64,4 persen elite menganggap penyebaran Covid-19 di Indonesia kurang atau tidak terkendali sama sekali. "Sementara 35,5 persen menilai cukup terkendali," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dalam konferensi pers virtual, Kamis, 20 Agustus 2020.

    Terkait prioritas yang harus dikerjakan, sebanyak 71,1 persen elite meminta pemerintah pusat mendahulukan masalah kesehatan ketimbang ekonomi. "Hanya 25,3 persen yang memilih pemerintah lebih baik memprioritaskan ekonomi dan 3,6 persen tidak menjawab," ucap dia.

    Selain itu, mayoritas elite (54,6 persen) menilai agar penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilanjutkan. Sedangkan 43,4 persen merasa PSBB sudah cukup dan bisa dihentikan agar ekonomi berjalan.

    Burhanuddin Muhtadi mengatakan survei ini berbeda dari biasanya karena membutuhkan kualitas informasi dari para responden untuk mengevaluasi model penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah, kepemimpinan para pengambil keputusan, struktur birokrasi. Karena itu, responden dalam survei ini adalah mereka yang dianggap sebagai pemuka opini.

    Survei ini dilakukan sejak awal Juli hingga awal Agustus 2020. Respondennya adalah 304 orang pemuka opini dari 20 kota yang terdiri dari akademikus yang menjadi rujukan media, pengamat kesehatan, sosial, dan politik, redaktur politik dan kesehatan media, pengusaha, tokoh organisasi keagamaan, tokoh organisasi masyarakat, LSM, dan organisasi profesi.

    Ia menuturkan tidak adanya data populasi pemuka opini membuat pemilihan responden tidak dilakukan secara random, melainkan secara purposif, terutama dicari dari media massa nasional atau daerah. "Namun karena jumlah responden survei ini cukup banyak, dan terdiri dari pemuka opini yang sering menjadi rujukan, maka hasil survei ini cukup menyuarakan penilaian pemuka opini pada umumnya," ujar Burhanuddin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Memiliki Tas Mewah

    Memilik tas mewah merupakan impian sebagian orang. Namun ada hal yang harus anda perhatikan ketika memiliki dan merawat tas mahal tersebut.