Peran TNI dalam Inpres: Kami Membina, Jangan Bayangkan Kami Turun Bawa Alutsista

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota TNI dan Polri berjaga di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2020. Personel TNI dan Polri disiagakan di sejumlah pusat kegiatan masyarakat untuk mengawal kedisiplinan warga dalam menjalankan protokol kesehatan, menyusul rencana penerapan tata kehidupan baru atau normal baru di ibu kota Jakarta. ANTARA

    Anggota TNI dan Polri berjaga di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2020. Personel TNI dan Polri disiagakan di sejumlah pusat kegiatan masyarakat untuk mengawal kedisiplinan warga dalam menjalankan protokol kesehatan, menyusul rencana penerapan tata kehidupan baru atau normal baru di ibu kota Jakarta. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Sub Bidang Pengamanan dan Penegakan Hukum Satuan Tugas Penangan Covid-19, Kolonel Chk Aloysiu Agung, mengatakan, peran pihaknya dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 adalah untuk mendukung upaya pemerintah menangani Covid-19.

    Dukungan itu ditunjukkan melalui pembinaan protokol kesehatan kepada masyarakat. "Jadi kami tidak melibatkan unsur tempur apa pun, jangan membayangkan ketika TNI turun lalu kami bawa alutsista (alat utama sistem pertahanan atau senjata)," ucap Aloysiu di konferensi pers daring pada Kamis, 13 Agustus 2020.

    Selain itu, TNI juga tidak terlibat dalam segi penegakan hukum. Aloysius mengatakan, TNI hanya membantu pemerintah daerah dalam melakukan sosialisasi penegakan hukum.

    "Dan personel yang dilibatkan tergantung dari konsep operasi yang dibuat oleh pemda. Masing-masing pemda ada konsep sendiri yang intinya mengutamakan kearifan lokal," kata Aloysius.

    Sementara untuk penegakan hukum, adalah ranah Polri. Namun, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Awi Setiyono, memastikan jika tindakan hukum adalah langkah terakhir.

    Awi mengatakan pihaknya menggunakan prinsip ultimum remedium atau istilah hukum yang biasa dipakai dan diartikan sebagai penerapan sanksi pidana untuk disiplin protokol kesehatan yang merupakan sanksi pamungkas (terakhir) dalam penegakan hukum.

    "Kami menerapkan preventif seperti teguran, binaan, mengingatkan masyarakat. Selama itu masih bisa dikerjakan, akan kami kedepankan," kata Awi.

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Febri Diansyah dan Jumlah Mereka yang Pamit dari KPK 5 Tahun Terakhir

    Mantan Kepala Biro Humas KPK, Febri Diansyah, menyatakan telah mengajukan surat pengunduran diri. Selama 5 tahun terakhir, berapa pegawai yang pamit?