Kemenkes Minta Masyarakat Kritis Klaim Obat Covid-19

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berobat di Klinik Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis, 30 Juli 2020. Klinik ini beserta lima fasilitas kesehatan umum lainnya akan jadi tempat pelaksanaan uji klinis vaksin Covid-19 di bulan Agustus 2020.  TEMPO/Prima Mulia

    Warga berobat di Klinik Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis, 30 Juli 2020. Klinik ini beserta lima fasilitas kesehatan umum lainnya akan jadi tempat pelaksanaan uji klinis vaksin Covid-19 di bulan Agustus 2020. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Staf khusus Menteri Kesehatan Mariya Mubarika meminta masyarakat kritis terhadap informasi tentang obat-obatan yang diklaim menyembuhkan Covid-19.

    “Kita harus banyak mengimbau bagaimana masyarakat kritis dan enggak termakan iklan-iklan,” kata Mariya dalam diskusi webinar, Ahad, 9 Agustus 2020.

    Mariya mengatakan, ada dua pemahaman mengenai obat di masyarakat. Pertama, obat yang melawan penyakit dan obat yang membantu tubuh melawan penyakit. Kebanyakan di masyarakat, kata Mariya, memahami obat yang membantu tubuh melawan penyakit.

    Misalnya, masyarakat bilang makan jeruk untuk mengobati flu. “Memang jeruk mengandung vitamin C yang membantu imunitas. Jadi sakit apa saja yang dihadapi ketika berhadapan dengan imunitas, ini menjadi obat,” kata dia.

    Klaim benar atau salah, kata Mariya, tidak bisa cepat-cepat disimpulkan. Sebab harus diteliti apakah terbukti  meningkatkan imunitas.

    Secara standar, Mariya menuturkan bahwa yang dikatakan obat ada uji klinis dan prosesnya panjang. Untuk klaim-klaim obat yang ternyata berbahaya untuk masyarakat, Kemenkes saat ini terus mengambil sampel dan memeriksa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebiasaan Anak Berbohong Dapat Merugikan Mereka Saat Dewasa

    Anak bisa melakukan kebohongan dengan atau tanpa alasan. Berbohong menurut si anak dapat menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang diterimanya.