Klaim Obat Covid-19, Ketua Konsorsium Riset: Cek Nomor Terdaftar BPOM

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisaris Independen Mandiri Inhealth Ali Ghufron Mukti membawa obor saat prosesi Torch Relay Asian Games 2018 melintasi kawasan Jalan M.T. Haryono, Yogyakarta, DIY, Kamis, 19 Juli. Asian Games 2018 akan mulai digelar pada 18 Agustus mendatang. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

    Komisaris Independen Mandiri Inhealth Ali Ghufron Mukti membawa obor saat prosesi Torch Relay Asian Games 2018 melintasi kawasan Jalan M.T. Haryono, Yogyakarta, DIY, Kamis, 19 Juli. Asian Games 2018 akan mulai digelar pada 18 Agustus mendatang. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN Ali Ghufron Mukti mengatakan jamu atau obat yang diklaim sebagai obat Covid-19 perlu dicek ke Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM

    “Terdaftar sebagai apa. Kalau klaim sebagai jamu kuat, dia klaim ini juga untuk Covid-19 itu tidak bisa,” kata Ghufron dalam diskusi di akun Youtube BNPB, Kamis, 6 Agustus 2020.

    Salah satu yang ramai diperbicangkan adalah Hadi Pranoto yang mengklaim obat ramuannya memiliki atau terdaftar di Badan POM. 

    Meski tidak menyinggung soal kasus Hadi Pranoto, Ghufron mengatakan, jamu atau obat yang terdaftar di BPOM biasanya hanya untuk satu kali efektivitasnya sendiri. Kalau indikasinya berubah menjadi obat untuk Covid-19, maka harus didaftarkan kembali.

    Jamu atau obat yang tidak memiliki nomor pendaftaran BPOM, kata Ghufron, juga patut diragukan. Sebab, jamu maupun sesuatu yang dikonsumsi untuk tubuh akan memberikan dampak.

    Jamu atau obat tersebut juga harus memiliki rekomendasi atau dukungan dari instansi berwenang, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Ristek, BPOM, atau perguruan tinggi yang jelas.

    Ghufron pun meminta masyarakat berhati-hati jika ada seseorang mengklaim obat termasuk obat Covid-19 hebat dan pasti sembuh.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Masker Scuba Tak Efektif Halau Covid-19, Bandingkan dengan Bahan Kain dan N95

    Dokter Muhamad Fajri Adda'i tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff. Ada sejumlah kelemahan pada bahan penutup wajah jenis tersebut.