Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19: Profesor Bukan Gelar

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penelitian di Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Sumber: dokumen Lembaga Eijkman

    Ilustrasi penelitian di Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Sumber: dokumen Lembaga Eijkman

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi, Ali Ghufron Mukti mengatakan profesor bukanlah gelar.

    “Profesor adalah jabatan akademik tertinggi. Harus melalui satu proses,” kata Gufron dalam diskusi di akun Youtube BNPB, Kamis, 6 Agustus 2020.

    Gufron mengatakan, jabatan profesor bukan diberi begitu saja. Profesor harus menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Menurut Gufron, profesor bisa berasal dari kalangan dosen dan peneliti.

    Anggota Tim Penilai PAK Dosen Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Sutikno, menjelaskan syarat-syarat menjadi profesor adalah memenuhi kecukupan angka kredit, minimal 850.

    Selain itu, harus memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional bereputasi. Syarat lainnya adalah memenuhi persyaratan administrasi. Misalnya, kinerjanya baik, berintegritas minimal baik, serta akreditasi perguruan tinggi pengusul atau program studinya minimal B.

    Ketiga syarat itu, kata Sutikno, akan dinilai oleh tim. “Apakah yang bersangkutan ini layak enggak secara akademik maupun postur, etik memenuhi atau tidak,” kata Sutikno dalam diskusi di BNPB ini.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.