Sunarta, Jaksa Agung Muda Intelijen Pernah Pimpin Eksekusi Mati Kasus Narkotika

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Intelejen Sunarta (tengah) dan Kepala Pusat Penerangan Hukum Mukri (kanan), Perwakilan Direktur Jenderal Imigrasi (kiri) bersama Buronan Pelaku Kejahatan Atto Sakmiwata Sampetoding di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis 21 November 2019. Tempo/Ahmad Tri Hawaari

    Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Intelejen Sunarta (tengah) dan Kepala Pusat Penerangan Hukum Mukri (kanan), Perwakilan Direktur Jenderal Imigrasi (kiri) bersama Buronan Pelaku Kejahatan Atto Sakmiwata Sampetoding di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis 21 November 2019. Tempo/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, JakartaJaksa Agung Sanitiar Burhanuddin merotasi empat orang anak buahnya di eselon 1 pada Rabu, 5 Agustus 2020.

    Salah satunya adalah Sunarta yang semula menjabat Jaksa Agung Muda Pidana Umum. Ia diangkat menjadi Jaksa Agung Muda Intelijen menggantikan Jan Samuel Maringka.

    "Jan Samuel Maringka diangkat sebagai Staf Ahli Jaksa Agung RI Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara," ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono melalui keterangan tertulis pada Rabu, 5 Agustus 2020.

    Dilansir dari beberapa sumber, Sunarta lahir dari keluarga petani pada 56 tahun silam. Ia mengawali karirnya sebagai calon PNS Kejaksaan Negeri Subang pada 1991. Tiga tahun setelah lulus pendidikan jaksa, Sunarta menjabat sebagai Kasi Intel Kejaksaan Negeri Singkawang. Di sana, ia pernah menangani kasus kerusuhan Sambas.

    Ketika menjabat sebagai Kasi Wilayah II Direktorat Upaya hukum dan eksekusi JAM Pidsus, Sunarta diberi kepercayaan menyidik hingga menyidangkan perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

    Ia kemudian dipromosikan sebagai Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Bengkulu. Saat bertugas di Bengkulu pada 2011, Sunarta menangani kasus korupsi yang melibatkan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin.

    Nama Sunarta sendiri baru dikenal luas ketika ia menjabat sebagai Koordinator Pidum Kejaksaan Agung pada 2014. Ia mendapatkan tugas menangani eksekusi hukuman mati di Lapas Nusakambangan.

    Sebanyak enam terpidana mati dari kasus narkotika yang dieksekusi adalah Marco Archer Cordosa, Ang Kiem Soei alias Tommy Wijaya, Rani Andriani alias Melisa Aprilia, Namaona Denis, Daniel Enemuo, dan Tran Thi Bich Hanh.

    Berhasil mengeksekusi mati terpidana kasus narkotika, Sunarta dipromosikan sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Kemudian menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur.

    Pada 2018, Sunarta menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Setahun memimpin, Sunarta diganjar penghargaan BPI Award dalam kepuasan pelayanan publik dan integritas penanganan korupsi. Sunarta dinilai memiliki manajemen yang baik dalam menjalankan tugas, maupun sebagai individu.

    Karirnya pun semakin moncer setelah diangkat sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen pada 2019. Hanya beberapa bulan menjabat, Sunarta mengemban tugas baru sebagai Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum pada Februari 2020. Baru setengah tahun menjabat, Jaksa Agung ST Burhanuddin merotasi Sunarta dengan jabatan baru sebagai Jamintel.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebiasaan Anak Berbohong Dapat Merugikan Mereka Saat Dewasa

    Anak bisa melakukan kebohongan dengan atau tanpa alasan. Berbohong menurut si anak dapat menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang diterimanya.