Cornelis Lay Wafat, Bekas Gubernur NTT: Dia Tak Tergiur Jabatan Meski Dekat Mega

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cornelis Lay memberikan sambutan saat dinobatkan menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Rabu, 6 Februari 2019. Syaifullah

    Cornelis Lay memberikan sambutan saat dinobatkan menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Rabu, 6 Februari 2019. Syaifullah

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, mengatakan mendiang Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadja Mada (UGM), Cornelis Lay, merupakan sosok nasionalis yang patut diteladani generasi bangsa.

    "Guru Besar Cornelis Lay yang biasa saya sapa Bang Cony adalah sosok nasionalis yang patut diteladani. Beliau akademisi dan pemikir yang tenang dan juga sangat cerdas," katanya di Kupang, Rabu 5 Agustus 2020.

    Mantan Gubernur NTT dua periode (2008-2018) itu menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Cornelis Lay yang merupakan putra asal Nusa Tenggara Timur. Cornelis Lay menghembuskan napas terakhir pada Rabu ini sekitar pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

    Lebu Raya mengatakan, mendiang Cornelis Lay juga merupakan sosok yang menjalani kehidupan dengan sederhana dan mengabdikan hidup untuk keyakinannya akan nasionalisme.

    "Beliau sangat getol dengan yang namanya nasionalisme. Selalu berjuang untuk kemanusiaan," katanya.

    Bang Cony, kata Lebu Raya, juga merupakan sosok yang tidak tergiur dengan kekuasaan padahal peluangnya sangat terbuka di masa awal partai PDIP karena ia berada di sekitar ibu Megawati Soekrnoputri menjabat sebagai wakil presiden dan kemudian menjadi presiden RI kala itu.

    "Dulu kita pernah mendorong beliau menjadi Sekjen PDIP tapi beliau lebih memilih tetap jadi akademisi. Beliau tidak silau pada kekuasaan," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hati-hati, Ada 5 Tempat Rawan Penularan Virus Corona di Kantor

    Penelitian mengumpulkan daftar lima titik risiko penyebaran Covid-19 di kantor. Sejumlah titik penularan virus corona sering kita abaikan.